PENGUJIAN TOTAL MIKROBA METODE STANDARD PLATE COUNT

Laporan Praktikum                                    Hari / tanggal : Kamis, 19 Mei 2011

M. K. Evaluasi Nilai Gizi                            Tempat            : Lab ENG lt. II

PENGUJIAN TOTAL MIKROBA

METODE STANDARD PLATE COUNT

Oleh :

Kelompok 3B

Ade Yuliani                                                 I14080012

Nining Tyas Tri Atmaja                              I14080024

Dian Rizki Eka Rizal                                  I14080060

Trikorian Ade Sanjaya                               I14080093

Ika Meilaty                                                 I14080120

Asisten :

Faiz Nur Hanum

Zahra Juwita

Penanggung Jawab Praktikum  :

Dr. Ir. Evy Damayanthi, MS

MAYOR ILMU GIZI

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2011

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

             Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme hidup yang berukuran sangat kecil dan hanya dapat diamati dengan menggunakan mikroskop. Mikroorganisme dapat berinteraksi dengan organisme lain dengan cara yang menguntungkan atau merugikan (Akhiarif 2011). Interaksi mikroorganisme dengan bahan pangan dapat menyebabkan perubahan yang menguntungkan. Selain itu, interaksi mikroorganisme semacam bakteri, jamur dan cendawan dalam bahan pangan juga dapat mengakibatkan kerusakan atau pembusukan (Afrianti 2004).

Kerusakan bahan pangan dapat berlangsung cepat atau lambat tergantung dari jenis bahan pangan atau makanan yang bersangkutan dan kondisi lingkungan dimana bahan pangan atau makanan diletakkan (Wijayanti 2011). Kerusakan bahan makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme terjadi karena mikroorganisme tersebut berkembangbiak dan bermetabolisme sehingga bahan makanan mengalami perubahan. Secara rinci menurut Buckle et al. (1987) kerusakan bahan  pangan yang disebabkan oleh mikroorganisme terjadi akibat struktur seluler bahan pangan rusak sehingga mudah diserang mikroorganisme. Mikroorganisme akan memecah senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana  agar disintesa yang pada akhirnya akan mempengaruhi perubahan tekstur, warna, bau, dan rasa.

Menurut Fardiaz (1989) faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme antara lain meliputi faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik, faktor proses, dan faktor implisit. Faktor intrinsik meliputi pH, aktivitas air (activity of water, aw), kemampuan mengoksidasi-reduksi (redoxpotential, Eh), kandungan nutrien, bahan antimikroba, dan struktur bahan makanan. Faktor ekstrinsik yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme adalah suhu penyimpanan, kelembaban, tekanan gas (O2), cahaya dan pengaruh sinar ultraviolet.

Selain faktor intrinsik dan ekstrinsik menurut Yudhabuntara (2010) terdapat juga faktor proses dan faktor implisit. Semua proses teknologi pengolahan bahan makanan (pemanasan, pengeringan, modifikasi pH, penggaraman, curing, pengasapan, iradiasi, tekanan tinggi, pemakaian medan listrik dan pemberian bahan tambahan pangan) mengubah bahan makanan tersebut yang berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroorganisme. Sedangkan faktor implisit adalah adanya sinergisme atau antagonisme di antara mikroorganisme di dalam bahan makanan. Ketika mikroorganisme tumbuh pada bahan makanan dia akan bersaing untuk memperoleh ruang dan nutrien. Dengan demikian akan terjadi interaksi di antara mikroorganisme yang berbeda yang dapat saling mendukung maupun saling menghambat.

Salah satu indikator kerusakan produk pangan adalah bila jumlah mikroorganisme tumbuh melebihi batas yang telah ditetapkan. Praktikum kali ini menggunakan sampel berupa teh yang dijual di warung. Pembuatan teh di warung tersebut tidak menutup kemungkinan terkena pencemaran mikroba yang berasal dari sanitasi dan higienitas alat-alat yang digunakan serta  cara dan lama penyimpanan produk teh. Oleh karena itu, diperlukan adanya pengujian total mikroba pada minuman teh. Salah satu metode pengujian yang dapat dilakukan adalah metode Standard Plate Count (SPC) yang menjelaskan cara menghitung koloni pada cawan serta cara memilih data yang ada untuk menghitung jumlah koloni di dalam suatu contoh.

Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui total mikroba dari beberapa bahan pangan dan mengetahui metode yang digunakan dalam pengujian total mikroba suatu bahan pangan.

TINJAUAN PUSTAKA

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sanitasi dan Higienis

            Setiap bahan pangan selalu mengandung mikroba yang jumlah dan jenisnya berbeda. Pencemaran mikroba pada bahan pangan merupakan hasil kontaminasi langsung atau tidak langsung dengan sumber-sumber pencemar mikroba, seperti tanah, air, debu, saluran pencernaan dan pernafasan manusia atau hewan. Dalam batas-batas tertentu kandungan mikroba pada bahan pangan tidak banyak berpengaruh terhadap ketahanan bahan pangan tersebut. Akan tetapi, apabila kondisi lingkungan memungkinkan mikroba untuk tumbuh dan berkembang lebih cepat, maka bahan pangan akan rusak karenanya (Dwidjoseputro 2005). Menurut Fardiaz (1992), faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri adalah zat makanan, pH, air, oksigen, dan senyawa penghambat pertumbuhan. Adapun menurut Buckle (1987), selain zat makanan, suhu, pH, dan aktifitas air, pertumbuhan bakteri juga dipengaruhi oleh waktu, potensial reduksi oksidiasi (redoks), struktur biologi, dan faktor pengolahan.

  1. Zat Makanan

Komponen kimiawi dan bahan makanan dapat ikut menentukan jenis mikroorganisme yang dominan di dalam bahan makanan tersebut. Komponen kimiawi tersebut sangat menentukan jumlah zat-zat gizi yang paling penting untuk perkembangan mikroorganisme (Buckle 1987).

  1. Suhu Pertumbuhan

Menurut Buckle (1987), suhu dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme dengan dua cara yang berlawanan yaitu (1) apabila suhu mengalami kenaikan sekitar suhu optimalnya, kecepatan metabolisme naik dan pertumbuhan dipercepat sedangkan bila suhu turun sekitar suhu optimalnya, kecepatan metabolisme akan menurun dan pertumbuhan juga diperlambat. Selanjutnya, Winarno (2002) menyebutkan bahwa setiap penurunan suhu 8°C akan membuat kecepatan reaksi berkurang menjadi setengahnya. (2) bila suhu naik hingga diatas suhu maksimal atau turun dibawah suhu minimal, maka pertumbuhan mungkin akan terhenti, komponen sel menjadi tidak aktif dan sel-sel mengalami kematian.

  1. Nilai pH

Setiap organisme memiliki kisaran pH tertentu yang masih memungkinkan bagi pertumbuhannya dan juga mempunyai pH optimum. Pada umumnya, mikroorganisme dapat tumbuh pada kisaran suhu 6,6-8,0 dan nilai pH luar pada kisaran 2,0-1,0 sydah bersifat merusak (Buckle 1987). Mikroorganisme juga memerlukan pH tertentu untuk pertumbuhannya, namun pada umumnya bakteri memiliki kisaran pH yang sempit, yaitu sekitar pH 6,5-7,5 atau pada pH netral.

  1. Aktifitas Air

Jumlah air yang terkandung didalam bahan makanan atau larutan disebut sebagai aktivitas air (water activity). Jenis mikroorganisme yang berbeda membutuhnkan jumlah air yang berbeda pula untuk pertumbuhannya. Bakteri umumnya memerlukan media yang memiliki nilai aw tinggi (0,91), khamir membutuhkan nilai aw 0,87-0,91 sedangkan kapang membutuhkan nilai aw yang lebih rendah lagi, yaitu 0,80-0,87 (Buckle 1987).

  1. Ketersediaan Oksigen

Masing-masing organisme membutuhkan jumlah oksigen yang berbeda untuk metabolismenya. Ada organisme yang tidak membutuhkan oksigen sama sekali untuk pertumbuhannya (anaerob), ada yang membutuhkan sedikit oksigen (mikroaerofil) dan ada yang dapat tumbuh dan berkembang biak pada kondisi lingkungan yang cukup oksigen maupun tidak ada oksigen sama sekali (anaerob fakultatif).

  1. Senyawa penghambat

Pertumbuhan bakteri juga dipengaruhi oleh senyawa-senyawa dalam bahan makanan yang bersifat antimikroba yang secara ilmiah ada didalam bahan makanan tersebut maupun yang sengaja ditambahkan seperti asam benzoat dan asam sorbat.

  1. Waktu

Menurut Fardiaz (1992), perbedaan dalam sifat-sifat sel suatu organism dan mekanisme pertumbuhannya menyebabkan perbedaan dalam kecepatan pertumbuhan. Umumnya, semakin komplek dalam sifat-sifat sel suatu organisme, maka waktu yang dibutuhkan oleh sel untuk membelah semakin lama. Bakteri membelah lebih cepat dari pada khamir, sedangkan khamir lebih cepat dari pada kapang. Bakteri membelah secara cepat dan tumbuh maksiimal dalam waktu 45 menit, khamir baru membelah dengan cepat dalam waktu 90 menit, kemudian kapang membelah dalam waktu 180 menit.

  1. Potensial Reduksi Oksidiasi ( Redoks )

Potensial reduksi oksidasi menunjukkan kemampuan substrat untuk melepaskan elektron (oksidasi) atau menerima elektron (reduksi). Potensial redoks sangat berpengaruh terhadap kehidupan mikroba. Mikroba memerlukan potensial redoks positif (teroksidasi), sedangkan pada mikroba anaerob memerlukan potensial redoks negatif (tereduksi).

  1. Struktur Biologi

Struktur biologi seperti kulit dan kulit pada telur, kulit kacangkacangan dan kulit buah berperan mencegah masuknya mikroba ke dalam bahan pangan tersebut.

  1. Faktor Pengolahan

Mikroba spesifik yang terdapat di dalam bahan pangan dapat dikurangi jumlahnya oleh berbagai jenis metode pengolahan atau pengawetan pangan. Jenis-jenis pengolahan atau pengawetan pangan yang berpengaruh terhadap kehidupan mikroba, antara lain suhu tinggi, suhu rendah, penambahan bahan pengawet dan irradiasi.

Mikroba dalam Teh Seduh

            Berdasarkan hasil penelitian, jenis mikroba yang terdapat dalam teh adalah Saccharomyces cerevisiae, Candida krusei, Kloeckera Apiculata, dan kluyveromyces africanus (Greenwalt et al.1998). Menurut Greenwalt et al (2000), teh yang telah diseduh terdiri dari beberapa mikroorganisme seperti pada tabel berikut:

Tabel 1 Mikroorganisme dalam teh

Mikroorganisme

Spesies

Bakteri Acetobacter xylinum, Acetobacter aceti, Acetobacter

pasteurianus, Gluconobacter.

Khamir Brettanomyces, Bretanomyces bruxellensis, Brettanomyces

intermedius, Candida, Candida fatama, Mycoderma, Mycotorula,

Phichia, Pichia embrane efacius, Saccharomyces,

Saccharomyces cerevisiae, Saccharomyces cerevisiae subp. Aceti,

Schizosaccharomycees, Torula, Torulaspora delbbrueckii,

Torulopsis, Zygosaccharomyces, Zygosaccharomyces bailii,

Zigosaccharomyces rouziz.

Menurut Frank (1991) melaporkan bahwa teh bersifat antibakteri terhadap Helicobacter pylori, yaitu bakteri yang dapat menyebabkan gastritis.

Cara Menghitung Jumlah Mikroba dan Pengaruh Faktor Pengenceran

            Analisis mikroorganisme digunakan untuk mengetahui jenis dan jumlah mikroorganisme yang terdapat dalam bahan pangan. Analisis tersebut dapat menggunakan standar yang disebut Standar Plate Count (SPC), menjelaskan mengenai cara menghitung koloni pada cawan serta cara memilih data yang ada untuk menghitung jumlah koloni di dalam suatu bahan pangan yang dianalisis. Cara menghitung koloni adalah sebagai berikut:

  1. Cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30 sampai 300.
  2. Beberapa koloni yang bergabung menjadi satu merupakan suatu kumpulan koloni yang besar dimana jumlah koloninya diragukan dapat dihitung sebagai satu koloni.
  3. Suatu deretan (rantai) koloni yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai satu koloni.

Adapun rumus untuk menghitung jumlah koloni per ml adalah sebagai berikut:

Jumlah koloni per ml = jumlah koloni per cawan x (1/Fp)

Keterangan: Fp = Faktor pengenceran

Berdasarkan hasil penelitian, pengaruh pengenceran terhadap jumlah koloni (bakteri) pada bahan pangan yang dianalisis dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2 Hasil percobaan pengaruh pengenceran terhadap jumlah koloni

Hari

Pengenceran

10-5

10-6

0

5 koloni

1 koloni

2

2 koloni

1 koloni

4

7 koloni

5 koloni

6

7 koloni

5 koloni

8

1 koloni

1 koloni

10

3 koloni

1 koloni

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat pengenceran yang lebih tinggi menghasilkan jumlah koloni yang lebih banyak. Pada hari pertama diketahui bahwa pada pengenceran 10-5 dengan jumlah koloni sebanyak 5 sedangkan pada pengenceran 10-6 dengan jumlah koloni sebanyak 1. Hal tersebut sama dengan hari-hari berikutnya (Fatmarina 2000).

Penyaji Makanan

Penyaji makanan adalah seseorang yang bertanggung jawab menyajikan makanan. Penyajian makanan yang tidak baik dan etis, bukan saja dapat mengurangi selera makan seseorang tetapi dapat juga menjadi penyebab kontaminasi. Pengertian higiene menurut Departemen Kesehatan (Depkes) adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu.

Sanitasi makanan adalah salah satu usaha pencegahan yang menitik beratkan kegiatan dan tindakan yang perlu untuk membebaskan makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat menganggu atau merusak kesehatan. Hal yang harus diperhatikan dalam penyajian makanan sesuai dengan prinsip higiene dan sanitasi makanan adalah setiap penanganan makanan maupun alat makan tidak kontak langsung dengan anggota tubuh terutama tangan dan bibir. Semakin baik sanitasi dan higiene makanan atau minuman maka semakin sedikit jumlah mikroba pada makanan dan minuman tersebut (Hafizah 2010).

Penjamah Makanan

Salah satu potensi dalam penularan penyakit menular bawaan makanan di rumah makan adalah penjamah makanan ( food handler ) yang tidak memperhatikan kebersihan diri dan lingkungannya dalam proses pengelolaan makanan di rumah makan. Hasil pemeriksaan tehadap 60 sampel makan minuman dari 30 rumah makan dari pelaksanaan grading di Kota Magelang tahun 2003 didapatkan 17 sampel ( 28,3% ) mengandung bakteri E. coli. Masih tingginya sampel makanan yang mengandung bakteri E.coli mungkin disebabkan karena pengetahuan penjamah makanan yang masih rendah (Widodo 2004).


 

METODOLOGI

Waktu dan Tempat

Praktikum pengujian total mikroba metode Standard Plate Count  dilaksanakan pada hari Senin tanggal 09 Maret 2011 sampai dengan hari Kamis tanggal 12 Maret 2011. Praktikum bertempat di Laboratorium Evaluasi Nilai Gizi Lantai 2, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

Bahan dan Alat

            Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum adalah larutan pengencer Broth Pepone Water (BPW), media Plate Count Agar (PCA), aquades, dan minuman teh. Alat yang digunakan adalah neraca analitik, cawan petri, Erlenmeyer, pipet volumetrik, hotplate stirrer, dan tabung reaksi.

Prosedur Percobaan

Dipipet sampel sebanyak 45 ml dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer

Ditambahkan NaOH sebanyak 5 ml dan diaduk, pengenceran 1/10

Dipipet 1 ml ke dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml NaOH, pengenceran 1/100

Dipipet 1 ml ke dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml NaOH, pengenceran 1/1000

Dipipet 1 ml ke dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml NaOH, pengenceran 1/10000

Dipipet 1 ml sampel dari setiap pengenceran secara aseptik

Dipupukkan ke dalam cawan petri, + media PCA sampai menutupi, dihomogenkan

Dibiarkan agar-agar mengeras, diinkubasi cawan petri pada T 370C selama t=24 jam, posisi terbalik

Dihitung seluruh mikroba yang tumbuh di cawan

X

X

Dihitung jumlah koloni/ml dengan rumus yang telah ditentukan

Gambar 1 Penentuan total mikroba

HASIL DAN PEMBAHASAN

Setiap bahan pangan selalu mengandung mikroba yang jumlah dan jenisnya berbeda. Pencemaran mikroba pada bahan pangan merupakan hasil kontaminasi langsung atau tidak langsung dengan sumber-sumber pencemar mikroba, seperti tanah, air, debu, saluran pencernaan dan pernafasan manusia atau hewan. Dalam batas-batas tertentu kandungan mikroba pada bahan pangan tidak banyak berpengaruh terhadap ketahanan bahan pangan tersebut.

Teh merupakan sumber alami kafein, teofilin dan antioksidan dengan kadar, lemak, karbohidrat atau protein mendekati nol persen. Teh bila diminum terasa sedikit pahit yang merupakan kenikmatan tersendiri dari teh. Teh adalah minuman yang mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas.

Teh merupakan bahan pangan yang tidak terlepas dari mikroba.  Berdasarkan hasil penelitian, jenis mikroba yang terdapat dalam teh adalah Saccharomyces cerevisiae, Candida krusei, Kloeckera Apiculata, dan kluyveromyces africanus (Greenwalt et al.1998).  Menurut Greenwalt et al (2000), teh yang telah diseduh terdiri dari beberapa mikroorganisme seperti bakteri dan khamir. Hal ini disebabkan berbagai faktor seperti iklim, lingkungan, kelembapan dan lain sebagainya. Menurut Frank (1991), teh bersifat antibakteri terhadap Helicobacter pylori, yaitu bakteri yang dapat menyebabkan gastritis.

Tabel 3. Mikroorganisme dalam teh

Mikroorganisme

Spesies

Bakteri Acetobacter xylinum, Acetobacter aceti, Acetobacter

pasteurianus, Gluconobacter.

Khamir Brettanomyces, Bretanomyces bruxellensis, Brettanomyces

intermedius, Candida, Candida fatama, Mycoderma, Mycotorula,

Phichia, Pichia embrane efacius, Saccharomyces,

Saccharomyces cerevisiae, Saccharomyces cerevisiae subp. Aceti,

Schizosaccharomycees, Torula, Torulaspora delbbrueckii,

Torulopsis, Zygosaccharomyces, Zygosaccharomyces bailii,

Zigosaccharomyces rouziz.

 

Pengukuran jumlah mikroba yang terkandung pada bahan pangan teh menggunakan metode pengenceran. Berdasarkan hasil penelitian, pengaruh pengenceran terhadap jumlah koloni (bakteri) pada bahan pangan yang dianalisis. Tingkat pengenceran yang lebih tinggi menghasilkan jumlah koloni yang lebih banyak. Pada hari pertama diketahui bahwa pada pengenceran 10-5 dengan jumlah koloni sebanyak 5 sedangkan pada pengenceran 10-6 dengan jumlah koloni sebanyak 1. Hal tersebut sama dengan hari-hari berikutnya (Fatmarina 2000).

Praktikum ini merupakan praktikum tentang perhitungan mikroba dengan metode Standard Plate Count (SPC). Metode tersebut menjelaskan mengenai cara menghitung koloni pada cawan serta cara memilih data yang ada untuk menghitung jumlah koloni di dalam suatu bahan pangan yang dianalisis. Praktikum ini menggunakan sampel berupa teh seduh dari beberapa rumah makan. Sampel tersebut adalah teh dari rumah, rumah makan S, rumah makan D, dan rumah makan MM. Sampel tersebut mengalami pengenceran sebanyak empat kali pengenceran. Kemudian sampel diletakkan dalam medium Agar Plate Count (APC) dan dilakukan perhitungan setelah didiamkan selama 48 jam. Berikut ini adalah tabel hasil perhitungan jumlah mikroba pada beberapa jenis sampel.

Tabel 4. Hasil perhitungan jumlah mikroba pada beberapa sampel dengan pengenceran berbeda.

Sampel

Jumlah koloni per pengenceran

10-1

10-2

10-3

10-4

R

268

90

52

25

S

328

TBUD

59

39

MM

80

42

64

44

D

60

68

TBUD

156

Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa sampel yang diencerkan dengan tingkat pengenceran tertentu mempunyai total mikroba yang bervariasi. Tingkat pengenceran yang lebih tinggi menghasilkan jumlah koloni yang lebih banyak (Fatmarina 2000). Hal tersebut dapat terlihat pada sampel teh Rumah. Jumlah total mikroba terbanyak terdapat pada sampel dengan pengenceran pertama dan semakin menurun pada pengenceran berikutnya. Hal ini disebabkan oleh pengaruh penambahan NaCl sehingga semakin tinggi tingkat pengenceran maka sampel yang terdapat pada larutan yang telah diencerkan sedikit sehingga total mikroba yang terhitung juga semakin sedikit. Namun hal tersebut tidak terjadi pada sampel teh S, MM, dan D yaitu terdapat fluktuasi jumlah mikroba. Hal ini dapat disebabkan oleh kurang telitinya praktikkan dalam menghitung total mikroba dan kurang pahamnya praktikan dalam menghitung total mikroba yang ada.

Selain itu, berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan jumlah mikroba pada sampel yang berbeda. Sampel teh S mengandung jumlah mikroba tertinggi pada pengenceran pertama dan kedua sedangkan sampel teh D mengandung jumlah mikroba terendah. Adanya perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah food handler. Food handler merupakan salah satu aspek penting dalam Manajemen Jasa Makanan dan Gizi (MJMG). Masih tingginya sampel makanan yang mengandung bakteri E.coli mungkin disebabkan karena pengetahuan penjamah makanan yang masih rendah (Widodo 2004). Selain itu, faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan jumlah mikroba dalam suatu sampel adalah sanitasi dan higiene makanan. Sanitasi berhubungan dengan lingkungan serta alat dan bahan yang digunakan dalam pengolahan sedangkan higiene berhubungan dengan sikap food handler dalam pengolahan dan penyajian makanan. Semakin baik sanitasi dan higiene makanan atau minuman maka semakin sedikit jumlah mikroba pada makanan dan minuman tersebut (Hafizah 2010).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

            Setiap bahan pangan selalu mengandung mikroba yang jumlah dan jenisnya berbeda. Teh merupakan bahan pangan yang tidak terlepas dari mikroba.  Pengukuran jumlah mikroba yang terkandung pada bahan pangan teh menggunakan pengenceran dengan metode Standard Plate Count (SPC). Tingkat pengenceran yang lebih tinggi menghasilkan jumlah koloni yang lebih banyak. Sampel teh S mengandung jumlah mikroba tertinggi, sedangkan sampel teh D mengandung jumlah mikroba terendah. Faktor-faktor yangmempengaruhi perkembangan mikroorganisme dalam pangan adalah zat makanan, pH, air, oksigen, senyawa penghambat pertumbuha, waktu, potensial reduksi oksidiasi (redoks), struktur biologi, dan faktor pengolahan, serta penyaji dan penjamah makanan.

Saran

            Praktikum ini seharusnya dilakukan dengan lebih teliti ketika penghitungan jumlah koloni. Pengolahan makanan seharusnya disesuaikan dengan standar kebersihan dan kesehatan pangan. Teh yang telah diseduh sebaiknya segera diminum dan tidak disimpan, perilaku ini akan menyebabkan berkembang biaknya bakteri pada teh.

DAFTAR PUSTAKA

Afrianti LH. 2004. Cara mengawetkan makanan. http://www.pikiranrakyat.com/cetak/0304/25/cakrawala/lainnya02.htm. [17 Mar 2011]

Akhiarif. 2011. Definisi mikroorganisme. http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2121956-definisi-mikroorganisme/#ixzz1MfMFrqJk. [17 Mar 2011]

Buckle et al. 1987. Ilmu Pangan terjemahan Purnomo H, Adiono. Jakarta: UI Press.

Buckle KA, RA Edwards, GH Fleet, M Wootton. 1987. Ilmu Pangan. Penerjemah: Hari Purnomo dan Adiono. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Dwidjoseputro. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.

Fardiaz S. 1989. Mikrobiologi Pangan. Bogor: Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB.

Fardiaz S. 1992. Mikrobiologi Pangan. Bogor: Dirjen Pendidikan Tinggi, Dekdikbud, PAU IPB.

Fatmarina S. 2000. Pengaruh konsentrasi sukrosa dan starter terhadap beberapa karakteristik kombucha [skripsi]. Bandung: Fakultas Teknologi Industri Pertanian, UNPAD.

Frank. 1991. Kombucha: Healthy beverage and natural remedy from the far east. Dalam Gandjar dan Sjamsuridzal. 2006. Mikologi Dasar dan Terapan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Greenwalt CJ, Steinkraus KH, Ledford RA. 2000. Kombucha, the fermented tea: microbiology, composition, and claimed health effects. J Food Protect 63:976-81.

Hafizah S. 2010. Gambaran Pengetahuan Penyaji Makanan (Food Handler) Pada Rumah-Rumah Makan Di Jalan Dr Mansur Tentang Amebiasis [skripsi]. Medan: Fakultas kedokteran, Universitas Sumatera Utara.

Widodo Y. 2004. Hubungan Tingkat Pengetahuan Penjamah Makanan Mengenai Hygiene Dan Sanitasi Makanan Dengan Kualitas Bakteriologis Makanan Pada Rumah Makan Di Kota Magelang [skripsi]: Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro.

Wijayanti R. 2011. Kerusakan bahan pangan. http://foodsciencetech46.wordpress.com/2011/01/24/kerusakan-bahan-pangan/. [17 Mar 2011]

Winarno, 2002. Kimia Pangan Dan Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Greenwalt CJ, RA Ledford, KH Steinkraus. 1998. Detoxification and Characterization of the antimikrobial activity of the fermented tea Kombucha. http://www.tmb.com [16 Mei 2011].

Yudhabuntara D. 2010. Pengendalian mikroorganisme dalam bahan pangan. http://milkordie.blogspot.com/2008/05/pengendalian-mikroorganisme-dalam-bahan.html. [17 Mar 2011]

LAMPIRAN

Tabel

Tabel 1 Jumlah koloni pada teh dari berbagai rumah makan

Sampel

Jumlah koloni per pengenceran

10-1

10-2

10-3

10-4

Rumah 1

148

48

36

44

Rumah 2

120

132

120

56

Seruni 1

220

TBUD

88

72

Seruni 2

108

140

88

84

MM 1

32

40

136

124

MM 2

48

44

56

52

Dila

60

68

TBUD

156

Perhitungan

Rumah = (jumlah koloni Rumah 1 + Rumah 2 pada pengenceran 2 x

= (148 + 120) x

= 268 x

= 134 koloni

About these ads

2 thoughts on “PENGUJIAN TOTAL MIKROBA METODE STANDARD PLATE COUNT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s