LAPORAN ADPG: ANALISIS POLA PANGAN HARAPAN (PPH)

Laporan Praktikum 6                                      Hari/Tanggal : Senin/16 April 2011

M.K Analisis Data Pangan dan Gizi

ANALISIS POLA PANGAN HARAPAN (PPH)

 

 

Oleh :

Ika Meilaty      I14080120

Asisten :

Pera Tinfika Mutiara, S.Si

Priskila

Rizwana Syarifah

Koordinator Mata Kuliah :

Prof. Dr. Ir. Dadang Sukandar, M.Sc

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2011


PEMBAHASAN

            Pola Pangan Harapan (PPH) adalah jenis dan jumlah kelompok pangan utama yang dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi berdasarkan kontribusi zat gizi energi masing-masing kelompok pangan. Beberapa kegunaan analisis ini adalah :

•          Menilai jumlah dan komposisi konsumsi atau         ketersediaan pangan.

•          Indikator mutu gizi dan keragaman konsumsi atau ketersediaan pangan.

•          Sebagai baseline data untuk mengestimasi kebutuhan pangan ideal di suatu wilayah.

•          Sebagai baseline data untuk menghitung proyeksi penyediaan pangan ideal untuk suatu wilayah.

•          Perencanaan konsumsi, kebutuhan dan peyediaan pangan wilayah.

Data yang digunakan untuk menganalisis PPH adalah data jumlah konsumsi energi per kelompok pangan serta jumlah responden. Data-data tersebut didapat dari file sebelumnya. Konsumsi energi didapat dari sheet “konsumsi”, dan jumlah responden didapat dari sheet “TKG”. Kedua data tersebut akan digunakan untuk menghitung energi aktual pada sheet “PPH”.

Energi aktual dihitung berdasarkan jumlah konsumsi energi berdasarkan kode PPH dibagi dengan jumlah responden. Fungsi yang digunakan adalah SUM dan IF. Fungsi tersebut akan menjumlahkan range data sesuai dengan syarat yang diminta. Formula yang digunakan ialah [=SUM(IF('G:\[Prk 8-9. Analisis Kecukupan & Konsumsi Gizi ika 10 resp.xlsx]KONSUMSI’!$E$4:$E$82=B4,’G:\[Prk 8-9. Analisis Kecukupan & Konsumsi Gizi ika 10 resp.xlsx]KONSUMSI’!$H$4:$H$82,0))/COUNT(‘G:\[Prk 8-9. Analisis Kecukupan & Konsumsi Gizi ika 10 resp.xlsx]TKG’!$B$4:$B$13)]. Formula tersebut memerintahkan untuk menjumlahkan konsumsi energi pada sheet “konsumsi” dengan kode PPH sesuai dengan kode PPH yang diminta pada sheet “PPH”. Fungsi ini dapat disalin ke baris berikutnya. Hasil konsumsi energi yang didapat setiap kelompok pangan dijumlahkan dengan fungsi SUM.

Persentase energi aktual setiap kelompok pangan didapat dengan membandingkan energi setiap kelompok pangan dengan total konsumsi energi seluruh kelompok pangan dikali 100. Formula yang digunakan adalah [=D4/D$13*100]. Formula ini dapat disalin ke baris berikutnya. Persentase AKE didapat dengan membandingan konsumsi energi aktual setiap kelompok pangan dengan rata-rata AKE, yaitu 2000, kemudian dikali 100. Formula yang digunakan ialah [=D4/2000*100]. Formula ini dapat disalin ke baris berikutnya.

Skor aktual dan skor AKE dihitung dari persentase masing-masing dikali dengan bobot. Bobot telah ditetapkan dengan prinsip dasar triguna makanan (zat pembangun, zat pengatur, dan zat tenaga). Formula yang digunakan ialah [=E4*G4]. Formula ini dapat disalin ke baris berikutnya. E adalah kolom % aktual dan G adalah kolom bobot, untuk % AKE terdapat pada kolom F.

Skor PPH adalah skor AKE per golongan pangan, Jika Skor AKE lebih kecil daripada Skor Maksimum, maka Skor PPH yang didapat adalah sama dengan skor AKE. Namun, jika Skor AKE lebih besar daripada skor Maksimum, maka Skor PPH adalah sama dengan skor Maksimum. Fungsi yang digunakan adalah fungsi IF dengan formula [=IF(I4>J4,J4,I4)]. Formula tersebut dibaca “Jika skor AKE (I4) lebih besar daripada skor Maksimum (J4), maka isi kolom tersebut dengan skor Maksimum, dan jika tidak maka diisi dengan skor AKE. Formula ini dapat disalin ke baris berikutnya.

Tabel 1. Perbandingan kotribusi energi

No

Kelompok Pangan

Energi (Kal/kap/hari)

Kontribusi (%)

Aktual

Ideal

Selisih

Aktual

Ideal

Selisih

1

Padi-padian

               432

            1,000

          (567.6)

              57.5

              50.0

                7.5

2

Umbi-umbian

                 23

               120

            (97.3)

                3.8

                6.0

               (2.2)

3

Pangan Hewani

               260

               240

              19.5

                5.0

              12.0

               (7.0)

4

Minyak dan Lemak

               784

               200

            584.1

              30.0

              10.0

              20.0

5

Buah/Biji Berminyak

                 49

                 60

            (11.5)

                2.5

                3.0

               (0.5)

6

Kacang-kacangan

                 14

               100

            (86.0)

                3.3

                5.0

               (1.7)

7

Gula

                    5

               100

            (94.7)

                2.5

                5.0

               (2.5)

8

Sayur dan Buah

               101

               120

            (19.4)

                4.3

                6.0

               (1.7)

9

Lain-lain

                 26

                 60

            (34.2)

                0.5

                3.0

               (2.5)

Total

            1,693

            2,000

          (307.0)

            109.3

            100.0

                9.3

Konsumsi pangan aktual untuk setiap bahan pangan masih kurang dari konsumsi yang diharapkan. Hal ini dapat terlihat dari selisih antara konsumsi ideal dengan konsumsi aktual pada tabel 1. Pangan dengan selisih ‘kurang” lebih banyak daripada yang “lebih”.  Konsumsi energi ideal dihitung dari % kontribusi ideal dikali dengan rata-rata AKE, yaitu 2000. Kontribusi energi dari pangan yang dikosumsi juga belum mencukupi AKE. Pangan yang dikonsumsi kurang dari kebutuhan.

Tabel 2. Perbandingan skor PPH

No

Kelompok Pangan

Skor PPH

Estimasi Berat (Gram)

AKE

Ideal

Selisih

Aktual

Ideal

Selisih

1

Padi-padian

              10.8

              25.0

            (14.2)

            118.9

            275.0

          (156.1)

2

Umbi-umbian

                0.6

                2.5

               (1.9)

              17.0

              90.0

            (73.0)

3

Pangan Hewani

              26.0

              24.0

                2.0

            151.4

            140.0

              11.4

4

Minyak dan Lemak

              19.6

                5.0

              14.6

              98.0

              25.0

              73.0

5

Buah/Biji Berminyak

                1.2

                1.0

                0.2

                8.1

              10.0

               (1.9)

6

Kacang-kacangan

                1.4

              10.0

               (8.6)

                4.9

              35.0

            (30.1)

7

Gula

                0.1

                2.5

               (2.4)

                1.6

              30.0

            (28.4)

8

Sayur dan Buah

              25.1

              30.0

               (4.9)

            192.8

            230.0

            (37.2)

9

Lain-lain

                   -

                   -

                   -

                6.5

              15.0

               (8.5)

Total

              84.8

            100.0

            (15.2)

Skor AKE masih kurang dari yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat pada tabel 2. Pada kolom selisih, terlihat bahwa hanya tiga kelompok pangan dengan skor AKE diatas kebutuhan, sementara lima kelompok lainnya masih kurang. Skor AKE kelompok pangan yang sangat jauh dengan harapan adalah kelompok padi-padian, sementara kelompok pangan yang sangat melebihi harapan adalah kelompok minyak dan lemak. Berat pangan yang dimakan juga masih kurang dari harapan. Untuk memenuhi harapan padi-padian dengan nilai harapan rendah membutuhkan konsumsi pangan sebesar 156,1 gram, sedangkan minyak dan lemak sebaiknya dikurangi konsumsinya karena terdapat kelebihan sebesar 73 gram.

Berdasarkan skor PPH, yaitu sebesar 68,1, pangan yang dimakan belum mencukupi harapan dan kurang beragam. Konsumsi pangan hewani, buah/biji berminyak serta minyak dan lemak telah melebihi konsumsi ideal. Hal ini terlihat dari skor AKE yang telah melebihi skor Maksimum, sementara kelompok pangan lain masih kurang dari harapan.

Bahan pangan yang perlu dikurangi konsumsinya adalah minyak dan lemak, pangan hewani serta buah/biji berlemak. Kelompok pangan ini dikonsumsi melebihi konsumsi ideal dengan kelebihan yang besar, sehingga konsumsi harus dikurangi. Sementara itu, bahan pangan yang harus ditingkatkan konsumsinya adalah padi-padian, umbi-umbian, kacang-kacangan, gula, serta sayur dan buah.

Tabel 3. Skor PPH

No

Kelompok Pangan

Skor      AKE

Skor Maksimum

Skor      PPH

1

Padi-padian

10.8

25.0

10.8

2

Umbi-umbian

0.6

2.5

0.6

3

Pangan Hewani

26.0

24.0

24.0

4

Minyak dan Lemak

19.6

5.0

5.0

5

Buah/Biji Berminyak

1.2

1.0

1.0

6

Kacang-kacangan

1.4

10.0

1.4

7

Gula

0.1

2.5

0.1

8

Sayur dan Buah

25.1

30.0

25.1

9

Lain-lain

0.0

0.0

0.0

Total

100.0

68.1

LAMPIRAN

Tabel PPH

No

Kelompok Pangan

Energi Aktual

% Aktual

% AKE

Bobot

Skor   Aktual

Skor      AKE

Skor Maksimum

Skor      PPH

1

Padi-padian

             432

25.5

            21.6

              0.5

12.8

            10.8

            25.0

10.8

2

Umbi-umbian

               23

1.3

              1.1

              0.5

0.7

              0.6

              2.5

0.6

3

Pangan Hewani

             260

15.3

            13.0

              2.0

30.7

            26.0

            24.0

24.0

4

Minyak dan Lemak

             784

46.3

            39.2

              0.5

23.2

            19.6

              5.0

5.0

5

Buah/Biji Berminyak

               49

2.9

              2.4

              0.5

1.4

              1.2

              1.0

1.0

6

Kacang-kacangan

               14

0.8

              0.7

              2.0

1.7

              1.4

            10.0

1.4

7

Gula

                 5

0.3

              0.3

              0.5

0.2

              0.1

              2.5

0.1

8

Sayur dan Buah

             101

5.9

              5.0

              5.0

29.7

            25.1

            30.0

25.1

9

Lain-lain

               26

1.5

              1.3

                -

0.0

                -

                -

0.0

Total

         1,693

100.0

            84.7

         100.0

            68.1

LAPORAN ADPG : ANALISIS KECUKUPAN DAN KONSUMSI

Laporan Praktikum 6                                Hari/Tanggal : Senin/16 April 2011

M.K Analisis Data Pangan dan Gizi

ANALISIS KECUKUPAN DAN KONSUMSI

 

 

Oleh :

Ika Meilaty      I14080120

Asisten :

Pera Tinfika Mutiara, S.Si

Priskila

Rizwana Syarifah

Koordinator Mata Kuliah :

Prof. Dr. Ir. Dadang Sukandar, M.Sc

 

 

 

 

 

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2011


PEMBAHASAN

            Kecukupan gizi bagi setiap individu berbeda menurut usia dan jenis kelamin. Nilai kecukupan dapat dilihat dari AKG (Angka Kecukupan Gizi). Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan adalah suatu kecukupan rata-rata zat gizi setiap hari bagi semua orang menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran & aktivitas tubuh, untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. AKG untuk usia diatas 10 tahun dibedakan juga setiap jenis kelaminnya.

Data yang dibutuhkan untuk menghitung kecukupan individu adalah kode responden, jenis kelamin (A4), usia dalam tahun (A51) dan bulan (A52), dan berat badan (A9) yang dibuat dalam sheet baru dengan nama “biota”. Data lain yang dibutuhkan adalah data kode responden, berat pangan yang dimakan (C3), dan kode pangan (C1) yang dibuat dalam sheet baru dengan nama “konsta”. Data untuk sheet “biota” dan “konsta” didapat dari data kuesioner dari praktikum sebelumnya.

Data jenis kelamin (A4) masih berupa kode dan harus dikategorikan sebagai pria atau wanita. Buat kolom baru disebelah kolom jenis kelamin, dan beri judul kolom “JK”. Fungsi yang digunakan ialah fungsi IF dengan formula [=IF(B2=1,"pria","wanita")]. Formula tersebut memberi perintah jika B2 (jenis kelamin (A4)) sama dengan 1, maka isi sel dengan “pria”, dan jika bukan maka isi sel dengan “wanita”.

Data usia harus diubah dalam bentuk tahun. Formula yang digunakan ialah [=D2+E2/12]. Formula tersebut menjumlahkan D2 (usia dalam tahun (A51)) dan E2 (usia dalam bulan (A52)), yang kemudian dibagi dengan 12 sehingga didapat usia dalam tahun. Data responden yang digunakan adalah balita (dibawah 5 tahun), karena responden yang di-recall adalah responden balita. Data responden di sort terlebih dulu (smallest to largest), kemudian responden dengan usia diatas 5 tahun dihapus.

Pada sheet “kecukupan”, insert baris sejumlah banyaknya data sebelum menyain data. Salin kode responden, usia (tahun), jenis kelamin (yang telah berupa data kategorik), dan berat badan dari sheet “biota” ke sheet “kecukupan”. Data tersebut dimasukkan pada kolom data yang dapat diubah (warna merah), sehingga kolom berikutnya berubah sesuai formula. Kolom-kolom selanjutnya (tulisan warna hitam) telah diisi dengan formula-formula sesuai kebutuhan.

Berat badan ideal ditentukan berdasarkan umur dan jenis kelamin, yang dapat dilihat pada tabel AKG. Fungsi yang digunakan untuk mengisi kolom BB ideal adalah fungsi VLOOKUP. Fungsi ini mirip dengan fungsi INDEX pada praktikum sebelumnya, yaitu menampilkan data berdasarkan tabel referensi dalam format vertikal. Pada fungsi ini terdapat dua macam pendekatan yaitu true dan false. Pendekatan true akan menggunakan nilai dibawahnya jika tidak ada nilai yang cocok dengan acuan, sementara pendekatan false akan mengeluarkan hasil 0 jika tidak ada yang cocok.

Formula untuk BB ideal adalah [=VLOOKUP($C4, IF($C4<10, AKG!$C$4:$H$8, IF($D4="Pria", AKG!$C$9:$H$16, AKG!$C$17:$H$24)), 3, TRUE)]. Formula ini dibaca “isi berat badan ideal berdasarkan umur (C4), jika umur (C4) kurang dari 10 maka lihat tabel AKG dengan range C4-H8, jika  tidak maka lihat jenis kelamin (D4), jika pria maka lihat tabel  AKG dengan range C9-H16, jika bukan pria (wanita) maka lihat tabel AKG dengan range C17-H24, kolom yang dibaca adalah kolom ketiga, apabila tidak ada yang cocok maka isi dengan nilai dibawahnya. Formula ini dapat disalin untuk mengetahui BB ideal untuk baris berikutnya.

Fungsi untuk mencari kecukupan gizi ideal, baik energi maupun protein, adalah fungsi VLOOKUP. Formula yang digunakan untuk energi ialah [=VLOOKUP($C4, IF($C4<10, AKG!$C$4:$H$8, IF($D4="Pria", AKG!$C$9:$H$16, AKG!$C$17:$H$24)),5, TRUE)], sementara untuk protein ialah [=VLOOKUP($C4, IF($C4<10, AKG!$C$4:$H$8, IF($D4="Pria", AKG!$C$9:$H$16, AKG!$C$17:$H$24)),6, TRUE)].  Formula ini dibaca “isi kecukupan energi berdasarkan umur (C4), jika umur (C4) kurang dari 10 maka lihat tabel AKG dengan range C4-H8, jika  tidak maka lihat jenis kelamin (D4), jika pria maka lihat tabel  AKG dengan range C9-H16, jika bukan pria (wanita) maka lihat tabel AKG dengan range C17-H24, kolom yang dibaca adalah kolom kelima untuk energi dan keenam untuk protein, apabila tidak ada yang cocok maka isi dengan nilai dibawahnya. Formula ini dapat disalin untuk mengetahui kecukupan gizi ideal untuk baris berikutnya.

Kecukupan gizi aktual didapat dengan membandingkan berat badan aktual dan berat badan ideal, yang kemudian dikalikan dengan kecukupan gizi ideal. Formula yang digunakan ialah [=$E4/$F4*G4] untuk energi, dan [=$E4/$F4*H4]. Kolom E adalah BB aktual, sedangkan Kolom F adalah BB ideal. Kolom G dan H adalah kolom untuk kecukupan gizi, yaitu energi dan protein. Formula ini dapat disalin untuk mengetahui nilai untuk baris berikutnya.

Data yang dibutuhkan untuk mengisi sheet “konsumsi” adalah data yang telah dibuat pada sheet “konsta”, yang akan mengisi kolom dengan tulisan merah pada sheet “konsumsi”. Data yang akan diisi pada sheet “konsumsi” adalah kode PPH, jenis pangan, BDD, dan kandungan zat gizi (energi dan protein). Data pada sheet “konsta” merupakan data konsumsi balita.

Kode PPH didapatkan dengan menggunakan fungsi VLOOKUP, dengan formula [=VLOOKUP($D4, DKBM!$B$4:$G$627, 2, FALSE)]. Formula ini dibaca “isi kode PPH berdasarkan kode pangan (D4) yang dilihat pada tabel DKBM dengan range B4-G627 kolom kedua, apabila tidak ada nilai yang cocok maka diisi dengan nilai 0. Formula ini dapat disalin untuk mengetahui kode PPH untuk baris berikutnya.

Jenis pangan dan BDD didapatkan dengan menggunakan fungsi VLOOKUP, dengan formula [=VLOOKUP($D4, DKBM!$B$4:$G$627, 3, FALSE)] untuk jenis pangan dan [=VLOOKUP($D4, DKBM!$B$4:$G$627, 4, FALSE)] untuk BDD. Formula ini dibaca “isi jenis pangan dan BDD berdasarkan kode pangan (D4) yang dilihat pada tabel DKBM dengan range B4-G627 kolom ketiga untuk jenis pangan dan kolom keempat untuk BDD, apabila tidak ada nilai yang cocok maka diisi dengan nilai 0. Formula ini dapat disalin untuk mengetahui jenis pangan dan BDD untuk baris berikutnya.

Kandungan gizi (E dan P) didapat dengan rumus  . Data berat pangan dan BDD telah tersedia pada kolom sebelumnya, sementara data kandungan gizi didapatkan dari tabel DKBM dengan fungsi VLOOKUP. Formula yang digunakan adalah [=($C4/100)*($G4/100)*VLOOKUP($D4, DKBM!$B$4:$G$627, 5, FALSE)]untuk energi dan [=($C4/100)*($G4/100)*VLOOKUP($D4, DKBM!$B$4:$G$627, 6, FALSE)] untuk protein. Formula ini dapat disalin untuk mengetahui kandungan gizi untuk baris berikutnya.

Sheet selanjutnya adalah sheet “TKG”. Data yang digunakan pada sheet ini adalah data dari sheet “kecukupan”. Insert baris sesuai jumlah data yang diolah. Salin kode sampel dari sheet “kecukupan” ke sheet “TKG”. Kolom berikutnya akan terisi secara otomatis sesuai perintah formula pada setiap kolom.

Kolom umur dan jenis kelamin akan terisi dengan formula [=VLOOKUP($B4, KECUKUPAN!$B$4:$J$13, 2, FALSE)] untuk umur dan [=VLOOKUP($B4, KECUKUPAN!$B$4:$J$13, 3, FALSE)] untuk jenis kelamin. Formula ini dibaca “isi umur dan jenis kelamin berdasarkan kode sampel (B4) yang dilihat pada sheet KECUKUPAN dengan range B4-J13 kolom kedua untuk umur dan kolom ketiga untuk jenis kelamin, apabila tidak ada nilai yang cocok maka diisi dengan nilai 0. Formula untuk kecukupan gizi aktual adalah [=VLOOKUP($B4, KECUKUPAN!$B$4:$J$13, 8, FALSE)] untuk energi dan [=VLOOKUP($B4, KECUKUPAN!$B$4:$J$13, 9, FALSE)] untuk protein. Formula ini dapat disalin untuk mengetahui nilai untuk baris berikutnya.

Konsumsi gizi aktual didapat dengan menjumlahkan konsumsi energi dan protein pada sheet “konsumsi” sesuai kode responden. Fungsi yang digunakan adalah SUM dan IF. Fungsi ini akan menjumlahkan data jika kode responden sama dengan acuan. Formula yang digunakan ialah [=SUM(IF(KONSUMSI!$B$4:$B$82=$B4, KONSUMSI!$H$4:$H$82), 0)].

Tingkat Kecukupan Gizi (TKG) didapatkan dengan membandingkan konsumsi zat gizi aktual dengan kecukupan gizi aktual kemudian dikalikan 100. Data yang didapat berupa persentase. Formula yang digunakan ialah [=G4/E4*100]. Formula ini dapat disalin untuk mengetahui nilai untuk baris berikutnya.

Tabel 1. Jumlah sampel berdasarkan jenis kelamin

No

Jenis Kelamin

Jumlah Sampel

Kecukupan Gizi Aktual

Konsumsi Gizi Aktual

Tingkat Kecukupan Gizi

n

%

Energi (Kal)

Protein (Gr)

Energi (Kal)

Protein (Gr)

Energi (%)

Protein (%)

1

Pria

                    4

40.0

            1,021               25.5                951               50.8               92.4             192.3

2

Wanita

                    6

60.0

            1,029               25.7             2,187               33.2             194.4             120.6

Total

                 10

100.0

            1,026               25.6             1,693               40.2             153.6             149.3

Sampel yang digunakan adalah 10 orang responden dengan perbandingan pria dan wanita 4:6. Baik kecukupan gizi aktual, konsumsi gizi aktual dan TKG, wanita lebih tinggi daripada pria. Konsumsi protein pria lebih banyak daripada wanita sehingga TKG protein pria lebih tinggi daripada wanita. Kecukupan gizi responden telah melebihi kebutuhan.

Jumlah sampel untuk pria dan wanita dihitung dengan fungsi COUNTIF dari sheet “TKG”. Fungsi ini menghitung data sampel sesuai dengan syarat yang diminta. Formula yang digunakan adalah [=COUNT(IF(TKG!$D$4:$D$13=$C4, TKG!$B$4:$B$13), "")]. Kecukupan gizi aktual, konsumsi gizi aktual, serta TKG didapat dengan menjumlahkan data pada sheet “TKG” sesuai syarat yang diberikan, yaitu sesuai jenis kelamin, kemudian dibagi dengan jumlah sampel. Fungsi yang digunakan adalah fungsi SUM dan IF, dengan formula [=SUM(IF(TKG!$D$4:$D$22=$C4, TKG!$E$4:$E$22, 0)/$D4)].

Tabel 2. Tingkat konsumsi energi

No

Jenis Kelamin

Sebaran Jumlah Keluarga Menurut Tingkat Konsumsi Energi

< 70 % AKE

70 – 80 % AKE

> 80 % AKE

Total

n

%

n

%

n

%

n

%

1

Pria

                    2

40.0

                    1

20.0

                    2

40.0

                    5

45.5

2

Wanita

                    2

33.3

                   -

0.0

                    4

66.7

                    6

54.5

Total

                    4

36.4

                    1

9.1

                    6

54.5

                 11

100.0

            Sebagan besar responden sudah memenuhi kecukupan energi aktualnya. Hal ini terlihat dari banyaknya responden yang TKG lebih tinggi daripada 80%, yaitu sebesar 54,5%. Baik pria maupun wanita memiliki tingkat kecukupan yang relatif sama.

Jumah sampel didapat dengan fungsi COUNT dan IF, yaitu dengan menghitung jumlah sampel dengan syarat. Syarat yang diberikan adalah jenis kelamin serta TKG. TKG dibagi menjadi tiga yaitu TKG<70%, 70%<TKG<80% dan TKG>80%. Formula yang digunakan ialah [=COUNT(IF(TKG!$D$4:$D$13=$C12, IF(TKG!$I$4:$I$13<70, TKG!$B$4:$B$13, ""), ""))]. Terdapat kesalahan pada formula TKG>80%, formul pada kolom tersebut menyatakan syarat >70%, sehingga data ada yang terhitung dua kali.

Tabel 3. Tingkat konsumsi protein

No

Jenis Kelamin

Sebaran Jumlah Keluarga Menurut Tingkat Konsumsi Protein

< 70 % AKP

70 – 80 % AKP

> 80 % AKP

Total

n

%

n

%

n

%

n

%

1

Pria

                    2

50.0

                   -

0.0

                    2

50.0

                    4

36.4

2

Wanita

                    2

33.3

                   -

0.0

                    4

66.7

                    6

54.5

Total

                    4

40.0

                   -

0.0

                    6

60.0

                 10

90.9

Sebagan besar responden sudah memenuhi kecukupan protein aktualnya. Hal ini terlihat dari banyaknya responden yang TKG lebih tinggi daripada 80%, yaitu sebesar 60%. Baik pria maupun wanita memiliki tingkat kecukupan yang relatif sama.

Jumah sampel didapat dengan fungsi COUNT dan IF, yaitu dengan menghitung jumlah sampel dengan syarat. Syarat yang diberikan adalah jenis kelamin serta TKG. TKG dibagi menjadi tiga yaitu TKG<70%, 70%<TKG<80% dan TKG>80%. Formula yang digunakan ialah [=COUNT(IF(TKG!$D$4:$D$13=$C20, IF(TKG!$J$4:$J$13<70, TKG!$B$4:$B$13, ""), ""))].

LAMPIRAN

Tabel Kecukupan responden

Nomor Sampel

Umur (Tahun)

Jenis Kelamin

Berat Badan (Cm)

Kecukupan Gizi Ideal

Kecukupan Gizi Aktual

Aktual

Ideal

Energi (Kal)

Protein (Gr)

Energi (Kal)

Protein (Gr)

1080

0.5

wanita

7

8.5

                    650

                   16.0

                    535                    13.2

3077

1.0

wanita

9

12.0

                1,000

                   25.0

                    750                    18.8

1118

1.5

wanita

13.7

12.0

                1,000

                   25.0

                1,142                    28.5

3081

1.5

pria

10

12.0

                1,000

                   25.0

                    833                    20.8

1095

1.5

pria

14

12.0

                1,000

                   25.0

                1,167                    29.2

3123

1.7

pria

12

12.0

                1,000

                   25.0

                1,000                    25.0

3104

1.9

wanita

12

12.0

                1,000

                   25.0

                1,000                    25.0

3110

2.0

wanita

13

12.0

                1,000

                   25.0

                1,083                    27.1

2064

2.2

pria

13

12.0

                1,000

                   25.0

                1,083                    27.1

1128

3.0

wanita

20

12.0

                1,000

                   25.0

                1,667                    41.7

Tabel Konsumsi

Nomor Sampel

Gram Pangan

Kode Pangan

Kode PPH

Jenis Pangan

BDD (%)

Kandungan Zat Gizi

Energi

(Kal)

Protein

(Gr)

1118

20

3

1

BERAS KETAN PUTIH

100

72

1.3

1118

15

282

8

BIT

75

5

0.2

1118

10

415

8

BUAH NONA

58

6

0.1

1118

10

158

3

AYAM

58

18

1.1

1118

20

481

4

LEMAK BABI

100

180

-

1118

5

241

3

PINDANG BANJAR

90

7

1.3

1118

50

460

8

SEMANGKA

46

6

0.1

1080

20

2

1

BERAS GILING MASAK (NASI)

100

36

0.4

1080

27

404

8

WORTEL

88

10

0.3

1080

50

42

2

KENTANG

85

35

0.9

1080

30

192

3

TELUR AYAM, BAGIAN PUTIH

100

15

3.2

1080

30

272

8

BAYAM, SEGAR

71

8

0.7

1080

43

393

8

TOMAT MASAK

95

8

0.4

1080

5

537

1

BISKUIT MAHAL

100

18

0.4

1080

10

407

8

ALPOKAT

61

5

0.1

1095

75

2

1

BERAS GILING MASAK (NASI)

100

134

1.6

1095

10

224

3

IKAN SEGAR

80

9

1.4

1095

25

147

6

TEMPE KEDELAI MURNI

100

37

4.6

1095

50

446

8

PEPAYA

75

17

0.2

1095

100

471

3

SUSU KENTAL MANIS

100

336

8.2

1095

50

272

8

BAYAM, SEGAR

71

13

1.2

1095

10

503

7

GULA PASIR

100

36

-

1128

300

4

1

BERAS KETAN PUTIH, TUMBUK

100

1,083

22.2

1128

100

164

3

DAGING ANAK SAPI

100

190

19.1

1128

60

194

3

TELUR AYAM, DADAR

100

151

9.8

1128

400

483

4

MARGARINE

100

2,880

2.4

1128

60

477

3

TEPUNG SUSU ASAM, UNTUK BAYI

100

251

11.4

2064

200

4

1

BERAS KETAN PUTIH, TUMBUK

100

722

14.8

2064

100

43

2

KENTANG HITAM

75

107

0.7

2064

500

241

3

PINDANG BANJAR

90

707

126.0

2064

100

415

8

BUAH NONA

58

59

1.0

2064

250

439

8

MANGGA KOPEK

65

91

0.7

2064

100

474

3

SUSU IBU (ASI)

100

65

1.1

2064

45

523

9

COKLAT MANIS, BATANG

100

212

0.9

3077

100

14

1

BERAS PECAH KULIT

100

335

7.4

3077

5

489

4

MINYAK WIJEN

100

45

-

3077

100

14

1

BERAS PECAH KULIT

100

335

7.4

3077

5

489

4

MINYAK WIJEN

100

45

-

3077

20

4

1

BERAS KETAN PUTIH, TUMBUK

100

72

1.5

3077

75

474

3

SUSU IBU (ASI)

100

49

0.8

3077

100

14

1

BERAS PECAH KULIT

100

335

7.4

3077

5

489

4

MINYAK WIJEN

100

45

-

3081

5

489

4

MINYAK WIJEN

100

45

-

3081

20

14

1

BERAS PECAH KULIT

100

67

1.5

3081

25

284

9

BOROS LAJA

80

4

0.2

3081

15

176

3

EMPAL GORENG

100

89

2.8

3081

5

489

4

MINYAK WIJEN

100

45

-

3081

20

14

1

BERAS PECAH KULIT

100

67

1.5

3081

25

284

9

BOROS LAJA

80

4

0.2

3081

15

176

3

EMPAL GORENG

100

89

2.8

3081

20

54

1

ROTI WARNA SAWO MATANG

100

50

1.6

3081

20

176

3

EMPAL GORENG

100

118

3.7

3081

5

489

4

MINYAK WIJEN

100

45

-

3104

100

4

1

BERAS KETAN PUTIH, TUMBUK

100

361

7.4

3104

50

241

3

PINDANG BANJAR

90

71

12.6

3104

25

158

3

AYAM

58

44

2.6

3104

50

439

8

MANGGA KOPEK

65

18

0.1

3104

500

486

4

MINYAK KACANG TANAH

100

4,510

-

3104

50

284

9

BOROS LAJA

80

9

0.4

3104

8

518

7

SETRUP, SIRUP

100

17

-

3104

30

194

3

TELUR AYAM, DADAR

100

75

4.9

3110

75

460

8

SEMANGKA

46

10

0.2

3110

100

153

5

KERUPUK MELINJO, TIPIS GORENG

100

485

11.5

3110

50

545

2

GETUK LINDRI

100

86

0.9

3110

20

164

3

DAGING ANAK SAPI

100

38

3.8

3110

125

538

8

BUNTIL

100

133

5.5

3110

100

4

1

BERAS KETAN PUTIH, TUMBUK

100

361

7.4

3110

20

164

3

DAGING ANAK SAPI

100

38

3.8

3110

200

396

8

CABE MERAH BESAR, KERING

85

529

27.0

3110

7.2

499

9

GELATINE

100

28

6.6

3110

20

97

6

KACANG IJO

100

69

4.4

3123

100

2

1

BERAS GILING MASAK (NASI)

100

178

2.1

3123

50

158

3

AYAM

58

88

5.3

3123

40

53

1

ROTI PUTIH

100

99

3.2

3123

50

404

8

WORTEL

88

18

0.5

3123

50

285

8

BUNCIS

90

16

1.1

3123

50

154

6

TAHU

100

34

3.9

3123

60

194

3

TELUR AYAM, DADAR

100

151

9.8

3123

50

451

8

PISANG RAJA ULI

75

55

0.8

Tabel TKG

Nomor Sampel

Umur (Tahun)

Jenis Kelamin

Kecukupan Gizi Aktual

Konsumsi Gizi Aktual

Tingkat Kecukupan Gizi

Energi (Kal)

Protein (Gr)

Energi (Kal)

Protein (Gr)

Energi (%)

Protein (%)

1080

            0.5  wanita

                    535

                   13.2

                    134

                     6.4

25.1

48.6

3077

            1.0  wanita

                    750

                   18.8

                1,261

                   24.5

168.2

130.7

1118

            1.5  wanita

                1,142

                   28.5

                    294

                     4.0

25.8

14.2

3081

            1.5  pria

                    833

                   20.8

                    623

                   14.2

74.7

68.1

1095

            1.5  pria

                1,167

                   29.2

                    582

                   17.1

49.9

58.8

3123

            1.7  pria

                1,000

                   25.0

                    638

                   26.6

63.8

106.5

3104

            1.9  wanita

                1,000

                   25.0

                5,105

                   28.1

510.5

112.2

3110

            2.0  wanita

                1,083

                   27.1

                1,775

                   71.1

163.9

262.5

2064

            2.2  pria

                1,083

                   27.1

                1,962

                145.1

181.1

535.8

1128

            3.0  wanita

                1,667

                   41.7

                4,554

                   64.9

273.3

155.7

PENGUJIAN TOTAL MIKROBA METODE STANDARD PLATE COUNT

Laporan Praktikum                                    Hari / tanggal : Kamis, 19 Mei 2011

M. K. Evaluasi Nilai Gizi                            Tempat            : Lab ENG lt. II

PENGUJIAN TOTAL MIKROBA

METODE STANDARD PLATE COUNT

Oleh :

Kelompok 3B

Ade Yuliani                                                 I14080012

Nining Tyas Tri Atmaja                              I14080024

Dian Rizki Eka Rizal                                  I14080060

Trikorian Ade Sanjaya                               I14080093

Ika Meilaty                                                 I14080120

Asisten :

Faiz Nur Hanum

Zahra Juwita

Penanggung Jawab Praktikum  :

Dr. Ir. Evy Damayanthi, MS

MAYOR ILMU GIZI

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2011

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

             Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme hidup yang berukuran sangat kecil dan hanya dapat diamati dengan menggunakan mikroskop. Mikroorganisme dapat berinteraksi dengan organisme lain dengan cara yang menguntungkan atau merugikan (Akhiarif 2011). Interaksi mikroorganisme dengan bahan pangan dapat menyebabkan perubahan yang menguntungkan. Selain itu, interaksi mikroorganisme semacam bakteri, jamur dan cendawan dalam bahan pangan juga dapat mengakibatkan kerusakan atau pembusukan (Afrianti 2004).

Kerusakan bahan pangan dapat berlangsung cepat atau lambat tergantung dari jenis bahan pangan atau makanan yang bersangkutan dan kondisi lingkungan dimana bahan pangan atau makanan diletakkan (Wijayanti 2011). Kerusakan bahan makanan yang disebabkan oleh mikroorganisme terjadi karena mikroorganisme tersebut berkembangbiak dan bermetabolisme sehingga bahan makanan mengalami perubahan. Secara rinci menurut Buckle et al. (1987) kerusakan bahan  pangan yang disebabkan oleh mikroorganisme terjadi akibat struktur seluler bahan pangan rusak sehingga mudah diserang mikroorganisme. Mikroorganisme akan memecah senyawa kompleks menjadi senyawa sederhana  agar disintesa yang pada akhirnya akan mempengaruhi perubahan tekstur, warna, bau, dan rasa.

Menurut Fardiaz (1989) faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme antara lain meliputi faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik, faktor proses, dan faktor implisit. Faktor intrinsik meliputi pH, aktivitas air (activity of water, aw), kemampuan mengoksidasi-reduksi (redoxpotential, Eh), kandungan nutrien, bahan antimikroba, dan struktur bahan makanan. Faktor ekstrinsik yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme adalah suhu penyimpanan, kelembaban, tekanan gas (O2), cahaya dan pengaruh sinar ultraviolet.

Selain faktor intrinsik dan ekstrinsik menurut Yudhabuntara (2010) terdapat juga faktor proses dan faktor implisit. Semua proses teknologi pengolahan bahan makanan (pemanasan, pengeringan, modifikasi pH, penggaraman, curing, pengasapan, iradiasi, tekanan tinggi, pemakaian medan listrik dan pemberian bahan tambahan pangan) mengubah bahan makanan tersebut yang berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroorganisme. Sedangkan faktor implisit adalah adanya sinergisme atau antagonisme di antara mikroorganisme di dalam bahan makanan. Ketika mikroorganisme tumbuh pada bahan makanan dia akan bersaing untuk memperoleh ruang dan nutrien. Dengan demikian akan terjadi interaksi di antara mikroorganisme yang berbeda yang dapat saling mendukung maupun saling menghambat.

Salah satu indikator kerusakan produk pangan adalah bila jumlah mikroorganisme tumbuh melebihi batas yang telah ditetapkan. Praktikum kali ini menggunakan sampel berupa teh yang dijual di warung. Pembuatan teh di warung tersebut tidak menutup kemungkinan terkena pencemaran mikroba yang berasal dari sanitasi dan higienitas alat-alat yang digunakan serta  cara dan lama penyimpanan produk teh. Oleh karena itu, diperlukan adanya pengujian total mikroba pada minuman teh. Salah satu metode pengujian yang dapat dilakukan adalah metode Standard Plate Count (SPC) yang menjelaskan cara menghitung koloni pada cawan serta cara memilih data yang ada untuk menghitung jumlah koloni di dalam suatu contoh.

Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui total mikroba dari beberapa bahan pangan dan mengetahui metode yang digunakan dalam pengujian total mikroba suatu bahan pangan.

TINJAUAN PUSTAKA

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Sanitasi dan Higienis

            Setiap bahan pangan selalu mengandung mikroba yang jumlah dan jenisnya berbeda. Pencemaran mikroba pada bahan pangan merupakan hasil kontaminasi langsung atau tidak langsung dengan sumber-sumber pencemar mikroba, seperti tanah, air, debu, saluran pencernaan dan pernafasan manusia atau hewan. Dalam batas-batas tertentu kandungan mikroba pada bahan pangan tidak banyak berpengaruh terhadap ketahanan bahan pangan tersebut. Akan tetapi, apabila kondisi lingkungan memungkinkan mikroba untuk tumbuh dan berkembang lebih cepat, maka bahan pangan akan rusak karenanya (Dwidjoseputro 2005). Menurut Fardiaz (1992), faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri adalah zat makanan, pH, air, oksigen, dan senyawa penghambat pertumbuhan. Adapun menurut Buckle (1987), selain zat makanan, suhu, pH, dan aktifitas air, pertumbuhan bakteri juga dipengaruhi oleh waktu, potensial reduksi oksidiasi (redoks), struktur biologi, dan faktor pengolahan.

  1. Zat Makanan

Komponen kimiawi dan bahan makanan dapat ikut menentukan jenis mikroorganisme yang dominan di dalam bahan makanan tersebut. Komponen kimiawi tersebut sangat menentukan jumlah zat-zat gizi yang paling penting untuk perkembangan mikroorganisme (Buckle 1987).

  1. Suhu Pertumbuhan

Menurut Buckle (1987), suhu dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme dengan dua cara yang berlawanan yaitu (1) apabila suhu mengalami kenaikan sekitar suhu optimalnya, kecepatan metabolisme naik dan pertumbuhan dipercepat sedangkan bila suhu turun sekitar suhu optimalnya, kecepatan metabolisme akan menurun dan pertumbuhan juga diperlambat. Selanjutnya, Winarno (2002) menyebutkan bahwa setiap penurunan suhu 8°C akan membuat kecepatan reaksi berkurang menjadi setengahnya. (2) bila suhu naik hingga diatas suhu maksimal atau turun dibawah suhu minimal, maka pertumbuhan mungkin akan terhenti, komponen sel menjadi tidak aktif dan sel-sel mengalami kematian.

  1. Nilai pH

Setiap organisme memiliki kisaran pH tertentu yang masih memungkinkan bagi pertumbuhannya dan juga mempunyai pH optimum. Pada umumnya, mikroorganisme dapat tumbuh pada kisaran suhu 6,6-8,0 dan nilai pH luar pada kisaran 2,0-1,0 sydah bersifat merusak (Buckle 1987). Mikroorganisme juga memerlukan pH tertentu untuk pertumbuhannya, namun pada umumnya bakteri memiliki kisaran pH yang sempit, yaitu sekitar pH 6,5-7,5 atau pada pH netral.

  1. Aktifitas Air

Jumlah air yang terkandung didalam bahan makanan atau larutan disebut sebagai aktivitas air (water activity). Jenis mikroorganisme yang berbeda membutuhnkan jumlah air yang berbeda pula untuk pertumbuhannya. Bakteri umumnya memerlukan media yang memiliki nilai aw tinggi (0,91), khamir membutuhkan nilai aw 0,87-0,91 sedangkan kapang membutuhkan nilai aw yang lebih rendah lagi, yaitu 0,80-0,87 (Buckle 1987).

  1. Ketersediaan Oksigen

Masing-masing organisme membutuhkan jumlah oksigen yang berbeda untuk metabolismenya. Ada organisme yang tidak membutuhkan oksigen sama sekali untuk pertumbuhannya (anaerob), ada yang membutuhkan sedikit oksigen (mikroaerofil) dan ada yang dapat tumbuh dan berkembang biak pada kondisi lingkungan yang cukup oksigen maupun tidak ada oksigen sama sekali (anaerob fakultatif).

  1. Senyawa penghambat

Pertumbuhan bakteri juga dipengaruhi oleh senyawa-senyawa dalam bahan makanan yang bersifat antimikroba yang secara ilmiah ada didalam bahan makanan tersebut maupun yang sengaja ditambahkan seperti asam benzoat dan asam sorbat.

  1. Waktu

Menurut Fardiaz (1992), perbedaan dalam sifat-sifat sel suatu organism dan mekanisme pertumbuhannya menyebabkan perbedaan dalam kecepatan pertumbuhan. Umumnya, semakin komplek dalam sifat-sifat sel suatu organisme, maka waktu yang dibutuhkan oleh sel untuk membelah semakin lama. Bakteri membelah lebih cepat dari pada khamir, sedangkan khamir lebih cepat dari pada kapang. Bakteri membelah secara cepat dan tumbuh maksiimal dalam waktu 45 menit, khamir baru membelah dengan cepat dalam waktu 90 menit, kemudian kapang membelah dalam waktu 180 menit.

  1. Potensial Reduksi Oksidiasi ( Redoks )

Potensial reduksi oksidasi menunjukkan kemampuan substrat untuk melepaskan elektron (oksidasi) atau menerima elektron (reduksi). Potensial redoks sangat berpengaruh terhadap kehidupan mikroba. Mikroba memerlukan potensial redoks positif (teroksidasi), sedangkan pada mikroba anaerob memerlukan potensial redoks negatif (tereduksi).

  1. Struktur Biologi

Struktur biologi seperti kulit dan kulit pada telur, kulit kacangkacangan dan kulit buah berperan mencegah masuknya mikroba ke dalam bahan pangan tersebut.

  1. Faktor Pengolahan

Mikroba spesifik yang terdapat di dalam bahan pangan dapat dikurangi jumlahnya oleh berbagai jenis metode pengolahan atau pengawetan pangan. Jenis-jenis pengolahan atau pengawetan pangan yang berpengaruh terhadap kehidupan mikroba, antara lain suhu tinggi, suhu rendah, penambahan bahan pengawet dan irradiasi.

Mikroba dalam Teh Seduh

            Berdasarkan hasil penelitian, jenis mikroba yang terdapat dalam teh adalah Saccharomyces cerevisiae, Candida krusei, Kloeckera Apiculata, dan kluyveromyces africanus (Greenwalt et al.1998). Menurut Greenwalt et al (2000), teh yang telah diseduh terdiri dari beberapa mikroorganisme seperti pada tabel berikut:

Tabel 1 Mikroorganisme dalam teh

Mikroorganisme

Spesies

Bakteri Acetobacter xylinum, Acetobacter aceti, Acetobacter

pasteurianus, Gluconobacter.

Khamir Brettanomyces, Bretanomyces bruxellensis, Brettanomyces

intermedius, Candida, Candida fatama, Mycoderma, Mycotorula,

Phichia, Pichia embrane efacius, Saccharomyces,

Saccharomyces cerevisiae, Saccharomyces cerevisiae subp. Aceti,

Schizosaccharomycees, Torula, Torulaspora delbbrueckii,

Torulopsis, Zygosaccharomyces, Zygosaccharomyces bailii,

Zigosaccharomyces rouziz.

Menurut Frank (1991) melaporkan bahwa teh bersifat antibakteri terhadap Helicobacter pylori, yaitu bakteri yang dapat menyebabkan gastritis.

Cara Menghitung Jumlah Mikroba dan Pengaruh Faktor Pengenceran

            Analisis mikroorganisme digunakan untuk mengetahui jenis dan jumlah mikroorganisme yang terdapat dalam bahan pangan. Analisis tersebut dapat menggunakan standar yang disebut Standar Plate Count (SPC), menjelaskan mengenai cara menghitung koloni pada cawan serta cara memilih data yang ada untuk menghitung jumlah koloni di dalam suatu bahan pangan yang dianalisis. Cara menghitung koloni adalah sebagai berikut:

  1. Cawan yang dipilih dan dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30 sampai 300.
  2. Beberapa koloni yang bergabung menjadi satu merupakan suatu kumpulan koloni yang besar dimana jumlah koloninya diragukan dapat dihitung sebagai satu koloni.
  3. Suatu deretan (rantai) koloni yang terlihat sebagai suatu garis tebal dihitung sebagai satu koloni.

Adapun rumus untuk menghitung jumlah koloni per ml adalah sebagai berikut:

Jumlah koloni per ml = jumlah koloni per cawan x (1/Fp)

Keterangan: Fp = Faktor pengenceran

Berdasarkan hasil penelitian, pengaruh pengenceran terhadap jumlah koloni (bakteri) pada bahan pangan yang dianalisis dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2 Hasil percobaan pengaruh pengenceran terhadap jumlah koloni

Hari

Pengenceran

10-5

10-6

0

5 koloni

1 koloni

2

2 koloni

1 koloni

4

7 koloni

5 koloni

6

7 koloni

5 koloni

8

1 koloni

1 koloni

10

3 koloni

1 koloni

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat pengenceran yang lebih tinggi menghasilkan jumlah koloni yang lebih banyak. Pada hari pertama diketahui bahwa pada pengenceran 10-5 dengan jumlah koloni sebanyak 5 sedangkan pada pengenceran 10-6 dengan jumlah koloni sebanyak 1. Hal tersebut sama dengan hari-hari berikutnya (Fatmarina 2000).

Penyaji Makanan

Penyaji makanan adalah seseorang yang bertanggung jawab menyajikan makanan. Penyajian makanan yang tidak baik dan etis, bukan saja dapat mengurangi selera makan seseorang tetapi dapat juga menjadi penyebab kontaminasi. Pengertian higiene menurut Departemen Kesehatan (Depkes) adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu.

Sanitasi makanan adalah salah satu usaha pencegahan yang menitik beratkan kegiatan dan tindakan yang perlu untuk membebaskan makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat menganggu atau merusak kesehatan. Hal yang harus diperhatikan dalam penyajian makanan sesuai dengan prinsip higiene dan sanitasi makanan adalah setiap penanganan makanan maupun alat makan tidak kontak langsung dengan anggota tubuh terutama tangan dan bibir. Semakin baik sanitasi dan higiene makanan atau minuman maka semakin sedikit jumlah mikroba pada makanan dan minuman tersebut (Hafizah 2010).

Penjamah Makanan

Salah satu potensi dalam penularan penyakit menular bawaan makanan di rumah makan adalah penjamah makanan ( food handler ) yang tidak memperhatikan kebersihan diri dan lingkungannya dalam proses pengelolaan makanan di rumah makan. Hasil pemeriksaan tehadap 60 sampel makan minuman dari 30 rumah makan dari pelaksanaan grading di Kota Magelang tahun 2003 didapatkan 17 sampel ( 28,3% ) mengandung bakteri E. coli. Masih tingginya sampel makanan yang mengandung bakteri E.coli mungkin disebabkan karena pengetahuan penjamah makanan yang masih rendah (Widodo 2004).


 

METODOLOGI

Waktu dan Tempat

Praktikum pengujian total mikroba metode Standard Plate Count  dilaksanakan pada hari Senin tanggal 09 Maret 2011 sampai dengan hari Kamis tanggal 12 Maret 2011. Praktikum bertempat di Laboratorium Evaluasi Nilai Gizi Lantai 2, Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

Bahan dan Alat

            Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum adalah larutan pengencer Broth Pepone Water (BPW), media Plate Count Agar (PCA), aquades, dan minuman teh. Alat yang digunakan adalah neraca analitik, cawan petri, Erlenmeyer, pipet volumetrik, hotplate stirrer, dan tabung reaksi.

Prosedur Percobaan

Dipipet sampel sebanyak 45 ml dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer

Ditambahkan NaOH sebanyak 5 ml dan diaduk, pengenceran 1/10

Dipipet 1 ml ke dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml NaOH, pengenceran 1/100

Dipipet 1 ml ke dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml NaOH, pengenceran 1/1000

Dipipet 1 ml ke dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml NaOH, pengenceran 1/10000

Dipipet 1 ml sampel dari setiap pengenceran secara aseptik

Dipupukkan ke dalam cawan petri, + media PCA sampai menutupi, dihomogenkan

Dibiarkan agar-agar mengeras, diinkubasi cawan petri pada T 370C selama t=24 jam, posisi terbalik

Dihitung seluruh mikroba yang tumbuh di cawan

X

X

Dihitung jumlah koloni/ml dengan rumus yang telah ditentukan

Gambar 1 Penentuan total mikroba

HASIL DAN PEMBAHASAN

Setiap bahan pangan selalu mengandung mikroba yang jumlah dan jenisnya berbeda. Pencemaran mikroba pada bahan pangan merupakan hasil kontaminasi langsung atau tidak langsung dengan sumber-sumber pencemar mikroba, seperti tanah, air, debu, saluran pencernaan dan pernafasan manusia atau hewan. Dalam batas-batas tertentu kandungan mikroba pada bahan pangan tidak banyak berpengaruh terhadap ketahanan bahan pangan tersebut.

Teh merupakan sumber alami kafein, teofilin dan antioksidan dengan kadar, lemak, karbohidrat atau protein mendekati nol persen. Teh bila diminum terasa sedikit pahit yang merupakan kenikmatan tersendiri dari teh. Teh adalah minuman yang mengandung kafein, sebuah infusi yang dibuat dengan cara menyeduh daun, pucuk daun, atau tangkai daun yang dikeringkan dari tanaman Camellia sinensis dengan air panas.

Teh merupakan bahan pangan yang tidak terlepas dari mikroba.  Berdasarkan hasil penelitian, jenis mikroba yang terdapat dalam teh adalah Saccharomyces cerevisiae, Candida krusei, Kloeckera Apiculata, dan kluyveromyces africanus (Greenwalt et al.1998).  Menurut Greenwalt et al (2000), teh yang telah diseduh terdiri dari beberapa mikroorganisme seperti bakteri dan khamir. Hal ini disebabkan berbagai faktor seperti iklim, lingkungan, kelembapan dan lain sebagainya. Menurut Frank (1991), teh bersifat antibakteri terhadap Helicobacter pylori, yaitu bakteri yang dapat menyebabkan gastritis.

Tabel 3. Mikroorganisme dalam teh

Mikroorganisme

Spesies

Bakteri Acetobacter xylinum, Acetobacter aceti, Acetobacter

pasteurianus, Gluconobacter.

Khamir Brettanomyces, Bretanomyces bruxellensis, Brettanomyces

intermedius, Candida, Candida fatama, Mycoderma, Mycotorula,

Phichia, Pichia embrane efacius, Saccharomyces,

Saccharomyces cerevisiae, Saccharomyces cerevisiae subp. Aceti,

Schizosaccharomycees, Torula, Torulaspora delbbrueckii,

Torulopsis, Zygosaccharomyces, Zygosaccharomyces bailii,

Zigosaccharomyces rouziz.

 

Pengukuran jumlah mikroba yang terkandung pada bahan pangan teh menggunakan metode pengenceran. Berdasarkan hasil penelitian, pengaruh pengenceran terhadap jumlah koloni (bakteri) pada bahan pangan yang dianalisis. Tingkat pengenceran yang lebih tinggi menghasilkan jumlah koloni yang lebih banyak. Pada hari pertama diketahui bahwa pada pengenceran 10-5 dengan jumlah koloni sebanyak 5 sedangkan pada pengenceran 10-6 dengan jumlah koloni sebanyak 1. Hal tersebut sama dengan hari-hari berikutnya (Fatmarina 2000).

Praktikum ini merupakan praktikum tentang perhitungan mikroba dengan metode Standard Plate Count (SPC). Metode tersebut menjelaskan mengenai cara menghitung koloni pada cawan serta cara memilih data yang ada untuk menghitung jumlah koloni di dalam suatu bahan pangan yang dianalisis. Praktikum ini menggunakan sampel berupa teh seduh dari beberapa rumah makan. Sampel tersebut adalah teh dari rumah, rumah makan S, rumah makan D, dan rumah makan MM. Sampel tersebut mengalami pengenceran sebanyak empat kali pengenceran. Kemudian sampel diletakkan dalam medium Agar Plate Count (APC) dan dilakukan perhitungan setelah didiamkan selama 48 jam. Berikut ini adalah tabel hasil perhitungan jumlah mikroba pada beberapa jenis sampel.

Tabel 4. Hasil perhitungan jumlah mikroba pada beberapa sampel dengan pengenceran berbeda.

Sampel

Jumlah koloni per pengenceran

10-1

10-2

10-3

10-4

R

268

90

52

25

S

328

TBUD

59

39

MM

80

42

64

44

D

60

68

TBUD

156

Berdasarkan Tabel 1, dapat diketahui bahwa sampel yang diencerkan dengan tingkat pengenceran tertentu mempunyai total mikroba yang bervariasi. Tingkat pengenceran yang lebih tinggi menghasilkan jumlah koloni yang lebih banyak (Fatmarina 2000). Hal tersebut dapat terlihat pada sampel teh Rumah. Jumlah total mikroba terbanyak terdapat pada sampel dengan pengenceran pertama dan semakin menurun pada pengenceran berikutnya. Hal ini disebabkan oleh pengaruh penambahan NaCl sehingga semakin tinggi tingkat pengenceran maka sampel yang terdapat pada larutan yang telah diencerkan sedikit sehingga total mikroba yang terhitung juga semakin sedikit. Namun hal tersebut tidak terjadi pada sampel teh S, MM, dan D yaitu terdapat fluktuasi jumlah mikroba. Hal ini dapat disebabkan oleh kurang telitinya praktikkan dalam menghitung total mikroba dan kurang pahamnya praktikan dalam menghitung total mikroba yang ada.

Selain itu, berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan jumlah mikroba pada sampel yang berbeda. Sampel teh S mengandung jumlah mikroba tertinggi pada pengenceran pertama dan kedua sedangkan sampel teh D mengandung jumlah mikroba terendah. Adanya perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah food handler. Food handler merupakan salah satu aspek penting dalam Manajemen Jasa Makanan dan Gizi (MJMG). Masih tingginya sampel makanan yang mengandung bakteri E.coli mungkin disebabkan karena pengetahuan penjamah makanan yang masih rendah (Widodo 2004). Selain itu, faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan jumlah mikroba dalam suatu sampel adalah sanitasi dan higiene makanan. Sanitasi berhubungan dengan lingkungan serta alat dan bahan yang digunakan dalam pengolahan sedangkan higiene berhubungan dengan sikap food handler dalam pengolahan dan penyajian makanan. Semakin baik sanitasi dan higiene makanan atau minuman maka semakin sedikit jumlah mikroba pada makanan dan minuman tersebut (Hafizah 2010).

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

            Setiap bahan pangan selalu mengandung mikroba yang jumlah dan jenisnya berbeda. Teh merupakan bahan pangan yang tidak terlepas dari mikroba.  Pengukuran jumlah mikroba yang terkandung pada bahan pangan teh menggunakan pengenceran dengan metode Standard Plate Count (SPC). Tingkat pengenceran yang lebih tinggi menghasilkan jumlah koloni yang lebih banyak. Sampel teh S mengandung jumlah mikroba tertinggi, sedangkan sampel teh D mengandung jumlah mikroba terendah. Faktor-faktor yangmempengaruhi perkembangan mikroorganisme dalam pangan adalah zat makanan, pH, air, oksigen, senyawa penghambat pertumbuha, waktu, potensial reduksi oksidiasi (redoks), struktur biologi, dan faktor pengolahan, serta penyaji dan penjamah makanan.

Saran

            Praktikum ini seharusnya dilakukan dengan lebih teliti ketika penghitungan jumlah koloni. Pengolahan makanan seharusnya disesuaikan dengan standar kebersihan dan kesehatan pangan. Teh yang telah diseduh sebaiknya segera diminum dan tidak disimpan, perilaku ini akan menyebabkan berkembang biaknya bakteri pada teh.

DAFTAR PUSTAKA

Afrianti LH. 2004. Cara mengawetkan makanan. http://www.pikiranrakyat.com/cetak/0304/25/cakrawala/lainnya02.htm. [17 Mar 2011]

Akhiarif. 2011. Definisi mikroorganisme. http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2121956-definisi-mikroorganisme/#ixzz1MfMFrqJk. [17 Mar 2011]

Buckle et al. 1987. Ilmu Pangan terjemahan Purnomo H, Adiono. Jakarta: UI Press.

Buckle KA, RA Edwards, GH Fleet, M Wootton. 1987. Ilmu Pangan. Penerjemah: Hari Purnomo dan Adiono. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Dwidjoseputro. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan.

Fardiaz S. 1989. Mikrobiologi Pangan. Bogor: Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi IPB.

Fardiaz S. 1992. Mikrobiologi Pangan. Bogor: Dirjen Pendidikan Tinggi, Dekdikbud, PAU IPB.

Fatmarina S. 2000. Pengaruh konsentrasi sukrosa dan starter terhadap beberapa karakteristik kombucha [skripsi]. Bandung: Fakultas Teknologi Industri Pertanian, UNPAD.

Frank. 1991. Kombucha: Healthy beverage and natural remedy from the far east. Dalam Gandjar dan Sjamsuridzal. 2006. Mikologi Dasar dan Terapan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Greenwalt CJ, Steinkraus KH, Ledford RA. 2000. Kombucha, the fermented tea: microbiology, composition, and claimed health effects. J Food Protect 63:976-81.

Hafizah S. 2010. Gambaran Pengetahuan Penyaji Makanan (Food Handler) Pada Rumah-Rumah Makan Di Jalan Dr Mansur Tentang Amebiasis [skripsi]. Medan: Fakultas kedokteran, Universitas Sumatera Utara.

Widodo Y. 2004. Hubungan Tingkat Pengetahuan Penjamah Makanan Mengenai Hygiene Dan Sanitasi Makanan Dengan Kualitas Bakteriologis Makanan Pada Rumah Makan Di Kota Magelang [skripsi]: Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro.

Wijayanti R. 2011. Kerusakan bahan pangan. http://foodsciencetech46.wordpress.com/2011/01/24/kerusakan-bahan-pangan/. [17 Mar 2011]

Winarno, 2002. Kimia Pangan Dan Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Greenwalt CJ, RA Ledford, KH Steinkraus. 1998. Detoxification and Characterization of the antimikrobial activity of the fermented tea Kombucha. http://www.tmb.com [16 Mei 2011].

Yudhabuntara D. 2010. Pengendalian mikroorganisme dalam bahan pangan. http://milkordie.blogspot.com/2008/05/pengendalian-mikroorganisme-dalam-bahan.html. [17 Mar 2011]

LAMPIRAN

Tabel

Tabel 1 Jumlah koloni pada teh dari berbagai rumah makan

Sampel

Jumlah koloni per pengenceran

10-1

10-2

10-3

10-4

Rumah 1

148

48

36

44

Rumah 2

120

132

120

56

Seruni 1

220

TBUD

88

72

Seruni 2

108

140

88

84

MM 1

32

40

136

124

MM 2

48

44

56

52

Dila

60

68

TBUD

156

Perhitungan

Rumah = (jumlah koloni Rumah 1 + Rumah 2 pada pengenceran 2 x

= (148 + 120) x

= 268 x

= 134 koloni

INTERVENSI PEMBERIAN AIR KELAPA SEGAR DAN OLAHAN PADA WANITA REMAJA PENDERITA KELUHAN MENSTRUASI

USULAN PENELITIAN

INTERVENSI PEMBERIAN AIR KELAPASEGAR DAN OLAHAN PADA WANITA REMAJA PENDERITA KELUHAN MENSTRUASI

Oleh:
Ika Meilaty
I14080120

Asisten Praktikum:
Nonly Stevani
Panji Azahari B Tahudi

Koordinator Mata Kuliah:
Prof, Dr. Ir. Hidayat Syarief, MS

DEPARTEMEN GIZI MASYARKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Setiap wanita yang telah mencapai usia remaja dan dewasa akan mengalami menstruasi. Menstruasi adalah peristiwa pengeluaran darah dan sel-sel yang luruh yang berasal dari dinding rahim melalui vagina yang berlangsung secara periodik. Menstruasi berawal dari menstruasi yang pertama (menarche) yang biasa terjadi pada usia 10-14 tahun sampai dengan terjadinya menopause (menstruasi terakhir) yang terjadi kira-kira pada umur 45-50 tahun.
Menstruasi umumnya memberikan rasa ketidaknyamanan pada fisik wanita selama beberapa hari sebelum atau pada awal menstruasi.Ketidaknyamanan tersebut biasa disebut keluhan menstruasi.Keluhan menstruasi yang sering dialami remaja antara lain menstruasi tidak teratur, menstrusi yang banyak dan lama, serta nyeri menstruasi. Salah satu keluhan menstruasi yang paling sering diutarakan adalah nyeri tak tertahan pada daerah sekitar perut.Akibatnya wanita tidak bisa melakukan aktivitasnya dengan normal, dan bahkan dapat menyebabkan hilangnya kesadaran
Salah satu upaya adalah dengan mengonsumsi obat-obatan, minuman atau makanan tertentu yang diyakini dapat mengurangi atau menghilangkan rasa sakit.Obat-obatan atau minuman penghilang rasa nyeri yang dijual dipasaran, umumnya banyak mengandung bahan-bahan kimia sintetis.Hal ini menyebabkan banyak wanita takut untuk menggunakan obat dan minuman tersebut untuk mengurangi rasa nyeri.
Air kelapa, yang oleh beberapa orang masih dianggap sebagai limbah, memiliki beberapa keistimewaan, selain cita rasa yang khas air kelapa juga mempunyai kandungan gizi terutama mineral yang sangat memadai untuk tubuh manusia.Air kelapa mengandung protein, lemak, gula, sejumlah vitamin, asam amino, dan hormon pertumbuhan. Kalium dan natrium pada air kelapa cukup tinggi, sehingga secara alami mempunyai komposisis mineral dan gula yang menyerupai kesetimbangan elektrolit pada cairan tubuh manusia.
Keluhan menstruasi dapat dikurangi dengan penambahan vitamin untuk kerja serotonin serta penambahan hormon yang biasa dilakukan sebagai terapi pengobatan keluhan menstruasi oleh dokter.Air kelapa secara alami mengandung banyak vitamin dan mineral serta mengandung beberapa hormon, seperti progesteron.Air kelapa juga telah diolah menjadi beberapa olahan dengan vitamin, mineral, serta zat gizi lain yang ditambahkan dari bahan pangan lain, sehingga memiliki kandungan gizi lebih tinggi. Namun, pengolahan pun umumnya mengurangi beberapa zat gizi dalam bahan pangan.
Wanita umumnya mulai merasakan keluhan menstruasi kurang lebih satu minggu sebelum menstruasi.Air kelapa dapat diminum baik sebelum, sedang maupun sesudah menstruasi untuk mengetahui waktu terbaik konsumsi pereda rasa nyeri.Oleh karena itu intervensi ini perlu dilakukan untuk mengetahui pengaruh air kelapa untuk mngatai keluhan menstruasi.

Tujuan
Tujuan Umum :
Tujuan umum penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian air kelapa pada wanita remaja sebagai upaya mengurangi keluhan menstruasi.
Tujuan Khusus :
1. Melakukan intervensi pemberian air kelapa segar dan olahan
2. Mempelajari pola pemberian intervensi secara preventif dan kuratif
3. Mengetahui dosis pemberian intervensi secara preventif dan kuratif
4. Mengetahui efek samping pemberian terhadap siklus menstruasi
5. Membandingkan pengaruh pemberian air kelapa segar dan olahan terhadap keluhan menstruasi
6. Membandingkan pola pemberian air kelapa segar dan olahan dengan produk pereda nyeri (kiranti)
Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat mengenai upaya mengurangi rasa nyeri ketika menstruasi secara alami dengan air kelapa.

TINJAUAN PUSTAKA
Air Kelapa
Air kelapa diperoleh dari buah kelapa yaitu endosperma cair (coconut water) dari buah kelapa.Air kelapa ini mengisi ¾ bagian rongga sebelah dalam buah kelapa (Freemond & Ziller 1996).Jumlah air kelapa yang terkandung dalam satu buah kelapa tua sekitar 300ml.
Selain sebagai minuman segar, air kelapa juga dimanfaatkan sebagai media produksi nata de coco. Namun demikian, secara umum air kelapa masih sering hanya merupakan limbah yang terbuang begitu saja.Satu buah kelapa rata-rata mengandung sekitar 200ml air kelapa.Jumlah ini dipengaruhi oleh ukuran kelapa, varietas, kematangan dan kesegaran kelapa. Produksi air kelapa cukup berlimpah di Indonesia, yaitu mencapai lebih dari dua juta liter per tahun. Namun, pemanfaatannya dalam industri pangan belum begitu banyak, sehingga banyak air kelapa yang terbuang percuma.Selain itu, buangan air kelapa berbahaya karena dapat menimbulkan pousi asam asetat yang terbentuk akibat fermentasi air kelapa (Anoim 2006). Menurut Tenda (1992), fermentasi air kelapa akan menghasilkan asam yang akan mempengaruhi keasaman tanah, sehingga akan menimbulkan pengaruh buruk pada tanaman sekitarnya.
Air kelapa mengandung sejumlah zat gizi, yaitu protein, lemak, gula, sejumlah vitamin, asam amino, dan hormon pertumbuhan. Unsur mineral utama adalah kalium.Kandungan gula masimal, yaitu 3 gram per 100ml air kelapa, tercapai pada bulan keenam umur buah, kemudian menurun dengan semakin tuanya kelapa. Jenis gula yang terkandung glukosa, fruktosa, sukrosa,, dan sorbitol. Gula-gula tersebut yang menyebabkan air kelapa muda terasa lebih manis dibandingkan air kelapa tua (Anonim 2006).
Kandungan mineral dalam air kelapa cukup tinggi teruama kalium dan klorida.Kandungan beberapa mineral dalam air kelapa disajikan pada Tebel 1 berikut.
Tabel 1 Kandungan mineral dalam air kelapa
Mineral Kandungan (ppm)
Kalium (K) 312
Natrium (Na) 105
Kalsium (Ca) 29
Magnesium (Mg) 30
Besi (Fe) 0,01
Tembaga (Cu) 0,14
Phospor (P) 37
Sulfur (S) 24
Klorida (Cl) 184
Sumber : Ketaren 1978 diacu dalam Tenda 1992
Menstruasi
Menstruasi merupakan peristiwa pengeluaran darah dan sel-sel endometrium yang luruh secara periodik melalui vagina. Menstruasi dimulai saat puberrtas dan menandai kemampuan seorang wanita untuk hamil walalupun mungkin faktor-faktor kesehatan lain belum memungkinkan untuk itu. Menstruasi biaasanya dimulai pada umur 10-14 tahun, tergantung pada berbagai faktor termasuk faktor kesehatan dan gizi. Menstruasi terjadi sebulan sekali sampai wanita mencapai usia 45-50 tahun. Akhir dari masa-masa kehamilan wanita (Anonim 2004).
Menstruasi melibatkan beberapa tahap yang dikendalikan oleh interaksi hormoon yang dikeluarkan oleh hipotalamus, kelenjar dibawah otak depan, dan indung telur. Pada permulaan siklus, lapisan sel rahim mulai berkembang dan menebal.Hormon memberi sinyal pada telur di dalam indung telur untuk mulai berkembang.Kemudian telur dilepaskan dan mulai bergerak menuju tuba Falopii kemudian ke rahim. Bila telur tidak dibuahi oleh sperma, lapisan rahim (endometrium) akan luruh dan akan dikeluarkan melalui vagina yang disertai dengan pendarahan (Anonim 2004).
Hanafiah (1987) menjelaskan bahwa hormon-hormon yang berpengaruh terhadap menstruasi diantaranya adalah FSH (Follicle Stimulating Hormone), LH (Luteinizing Hormone), hormon estrogen, dan hormon progesteron.Folikel berkembang akibat pengaruh dari produksi FSH yang meningkat. Folikel ini akan semakin berkembang sehingga produksi esterogen semakin meningkat, hal ini mengakibatkan produksi FSH semakin menurun. Produksi estrogen secara berangsur-angsur mencapai puncaknya, dan hal ini menyebabkan terjadinya lonjakan LH pada pertengahan siklus.Kenaikan estrogen dan LH inilah yang mengakibatkan terjadinya ovulasi.
Dalam beberapa jam setelah kenaikan LH, estrogen menurun dan akhirnya LH juga menurun. Setelah ovulasi, folikel berubah menjadi korpus luteum, Lutenized granulosa cells dalam korpus luteum memproduksi progesteron, dan luteinized theca cells memproduksi estrogen, sehingga jumlah kedua hormon tersebut meningkat pada fase luteal. Salah satu fungsi progesteron adalah mempertahankan endometrium. Korpus luteum berangsur-angsur akan terdegradasi, dan karena tidak adanya pembuahan maka pengeluaran hormon progesteron menjadi semakin berkurang dan endometrium akan luruh dan akhirnya terjadi menstruasi (Hanafiah 1987).
Siklus Menstruasi
Lama siklus menstruasi adalah lamanya periode menstruasi yang dihitung dari awal menstruasi smpai sehari sebelum periode mensruasi berikutnya. Hari mulainya pendarahan dinamakan hai pertama siklus. Jam mulainya menstruasi tidak pernah diperhitungkan maka panjang siklus mempunyai kesalahan ± 1 hari. Menurut Hanafiah (1987) lama siklus yang biasa pada mausia ialah 25-32 hari. Lama siklus menstruasi yang dianggap sebagai siklus menstruasi klasik adalah 28 hari, tetapi variasinya cukup luas bukan saja antara beberapa wanita tetapi juga pada wanita yang sama (Affandi 1990). Endometrium dipersiapkan untuk kedatangan ovum yang telah dibuahi, pada kira-kira hari ke-21, apabila ovum tidak dibuahi maka pada hari ke-28 endometrium luruh dan menstruasi pun terjadi dn siklus terulang sekali lagi (Pearce 1992).
Siklus menstruasi terdiri dari atas perubahan-perubahan di dalam ovarium dan rahim. Masa menstruasi berlangsung kira-kira lima hari, selama masa ini dinding endometrium luruh dari dinding rahim dan pendarahan terjadi. Siklus menstruasidiatur oleh interaksi yang kompleks dari beberapa kelenjar endokrin reproduksi yang terdiri dari hipotalamus, hipofisis, ovarium dan endometrium atau disebut juga poros hipotalamus-hipofisis-gonad.Bila poros berjalan normal maka siklus menstruasi berjlan normal (Affandi 1990; Pearce 1992).
Masa sesudah menstruasi adalah tahap perbaikan dan pertumbuhan yang berlangsung sembilan hari ketika selaput terlepas untuk diperbaharui.Tahap ini dikendalikan oleh estrogen yang disekresikan oleh ovarium, pengeluaran estrogen dikendalikan oleh FSH dari hipofisis. Ovulasi terjadi pada 14 hai pertama, kemudian disusul 14 hari tahap sekretorik, yang dikendalikan oleh progesteron yang dikluarkan oleh korpus luteum. Endometrium menjadi tebal dan lembut, siap untuk ditanami ovum yang telah dibuahi, tetapi bila tidak ada ovum yang dibuahi maka terjadi bendungan di dalam kapiler-kapiler dan dilanjutkan dengan masa menstruasi (Pearce 1992).
Siklus mnstruasi pada wanita berkaitan dengan usia. Siklus terlama adalah saat setelah menstruasi yang pertama dan saat menjelang menopause. Siklus menstruasi memendek secara bertahap bersamaan dengan bertambahnya usia, dan menjadi stabil pada usia tiga puluhan (Danukusumo & Affandi 1990).
Keluhan Menstruasi
Danukusumo dan Affandi (1990) menyatakan bahwa menstruasi tidak hanya sekedar keluarnya darah dari vagina, tetapi juga disertai perasaan tidak nyaman dan stres mental.Menurut Affandi (1990) keluhan menstruasi yang sering dialami remaja antara lain menstruasi tidak teratur (terutama dalam 3 tahun pertama menarche), menstruasi yang banyak dan lama (hipermenorhea), dan nyeri menstruasi (dismenorhea). Gejala-gjala dari keluhan menstruasi dapat sakit/keram di bawah perut, nyeri pada payudara, sakit kepala, lesu, merasa lebih emosional, dan lain-lain (Anonim 2004).
Dismenorea atau nyeri menstruasi mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menybabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan. Keluhan menstruasi ini bersifat subyektif, sehingga berat atau intensitasnya sukar dinilai.Walaupun frekuensi dismenorea cukup tinggi dan sudah lama dikenal, namun sampaii sekarang patogenesisnya belum dapat dipecahkan dengan memuaskan (Simanjuntak 1999).
Keluhan menjelang menstruasi merupakan keluhan secara psikis maupun fisik yang terjadi antara hari kedua sampai hari keempat belas menjelang menstruasi dan mereda segera saat menstruasi berawal, walaupun kadang-kadang berlangsung terus sampai menstruasi berhenti.Gejala-gejala fisik diantaranya sakit kepala, mual, sakit atau keram di bawah perut, pembesaran dan rasa nyeri pada payudara, dan sebagainya (Shreeve 1989).
Terjadinya keluhan-keluhan tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor.Shreeve (1989) menyebutkan bahwa ketidakseimbangan hormon esterogen dan progesteron memiliki peranan penting pada keluhan-keluhan menstruasi. Faktor lain yang dapat menyebabkan terjdinya keluhan adalah faktor keturunan. Adanya faktor keturunan ini sulit untuk dikendalikan.Seorang remaja yang mengalami keluhan menstruasi biasanya memiliki ibu yang juga pernah mengalami keluhan menstruasi serupa.
Keluhan nyeri bawah perut dapat disebabkan karena adanya hiperkontraktilitas rahim yang disebabkan oleh prostaglandin. Prostaglandin hanya dapat menimbulkan rasa sakit apabila kadar progesteron dalam darah rendah. Apabila jumlah prostaglandin yang dilepaskan ke dalam peredaran darah terlalu berlebihan, maka selain terjadi nyeri akan terjadi pula keluhan ual dan muntah (Simanjuntak 1999).
Fatigon Hydro
Fatigon Hydro adalah minuman isotonik yang mengandung ion dan mineral penting yang mirip dengan cairan tubuh.Minuman ini terbuat dari air kelapa dan mengandung vitamin B3, B5 dan B6. Sehat untuk dikonsumi karena non-carbonated, free alcohol dan tanpa bahan pengawet (Kalbe Farma 2011).
Kiranti
Kiranti Sehat Datang Bulan merupakan minuman kesehatan dengan indikasi memperlancar haid serta mengatasi keluhan haid.Minuman ini terbuat dari bahan alami, seperti kunyit, dan tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya bagi tubuh. Rasa manis Kiranti berasal dari gula pasir dan gula kelapa (Amaliafitri 2010).

DAFTAR PUSTAKA
Affandi B. 1990. Fisiologi Haid. Di dalam:Affandi B, editor. 1990. Gangguan Haid Pada Remaja dan Dewasa. Jakarta:Balai Penerbit FKUI. Hal 1-8.

Amaliafitri A. 2010. Kiranti, minuman kesehatan untuk wanita. http://www.okezone.com/read/2010/03/12/27/312107 [23 Maret 2011].

Anonim. 2004. Mengatasi Gangguan Haid. http://www.changjaya-abadi.com/formasi-04.htm [20 Maret 2011].

______. 2006. Air kelapa, larutan isotonik alami. [terhubung berkala]. http://www.pikiranrakyat.com [20 Maret 2011].

Danukusumo D, Affandi B. 1990. Gangguan Haid Pada Remaja dan Dewasa.Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Freemond Y, Ziller. 1996. The Coconut Palm International Potash Institute. Vol II. CRC Press, Inc Ohio.

Hanafiah MJ.1987. Haid dan Siklusnya. Di dalam: Ilmu Kandungan. Jakarta: Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Kalbe Farma. 2011. Fatigon Hydro – online.www.kalbe.co.id [23 Maret 2011].

Pearce EC.1992. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia: Jakarta.

Shreeve C. 1989. Sindrom pramenstruasi.Jakarta : ARCAN Penerbit Umum.

Simajuntak p. 1999.Gangguan Haid dan Siklusnya. Yayasan Bina pustaka: Jakarta.

Tenda ET. 1992. Studi mikrobiologi minuman ringan air kelapa karbonat dan non karbonat. [Tesis]. Pasca Sarjana. IPB.

ANALISIS DATA PANGAN DAN GIZI : Z-SCORE

Laporan Praktikum 5 Hari/Tanggal : Senin/18 April 2011
M.K Analisis Data Pangan dan Gizi

PENENTUAN STATUS GIZI BERDASARKAN Z-SCORE

Oleh :
Ika Meilaty I14080120

Asisten :
Pera Tinfika Mutiara, S.Si
Priskila
Rizwana Syarifah

Koordinator Mata Kuliah :
Prof. Dr. Ir. Dadang Sukandar, M.Sc

DEPARTEMEN GIZI MASYARAKAT
FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2011
PEMBAHASAN
IMT digunakan untuk menentukan status gizi bagi orang dewasa, sementara untuk usia 0-18 tahun, acuan yag digunakan untuk menentukan status gizi adalah z-score. Untuk mendapatkan nilai z-score, data yang diperlukan ialah usia (U), berat badan (BB), tinggi badan (TB), jenis kelamin, data nilai median dan standar untuk BB/TB, BB/U, dan TB/U. Data median dan standar untuk BB/TB, BB/U, TB/U telah tersedia pada sheet sebelumnya.
Status gizi yang akan ditentukan adalah status gizi subjek dengan usia kurang dari 18 tahun. Data didapat dari hasil kuesioner pada praktikum sebelumnya. Data kode, BB (A9), TB (A10), usia (A51 dan A52), dan jenis kelamin (A4) disalin ke sheet baru dengan paste special, agar formula untuk kode tidak terbawa. Buat dua buah kolom baru dengan nama IBBTB dan IBBUTBU. IBBTB didapat dengan formula [=INT(($F2-48.5)/0.5)] yang selanjutnya disalin ke baris selanjutnya dengan cara menarik ke bawah. Formula ini didapat berdasarkan rumus IBBTB yaitu =((TB-48,5))/0,5. Fungsi INT atau Integer digunakan untuk membulatkan hasil dari perhitungan kebawah. IBBUTBU didapat dengan formula [=C2*12+D2+1], dengan C2 adalah usia dalam tahun (A51), dan D2 adalah usia dalam bulan. Kemudian formula ini disalin untuk mendapatkan nilai untuk baris berikutnya.
Nilai z-score yang pertama kali akan dihitung adalah BB/U. Untuk mencari nilai z-score BB/U dibutuhkan BBUmedian dan BBUstandar dari masing-masing responden. Data ini diacu pada usia dan jenis kelamin. Fungsi yang digunakan adalah fungsi IF dan INDEX. Fungsi IF digunakan untuk memberikan persyaratan, sementara fungsi INDEX digunakan untuk memasukkan data yang sesuai dengan persyaratan tersebut. Formula yang digunakan untuk mendapatkan BBUmed ialah [=IF($B3=1,INDEX(BBU!$D$2:$G$241,Sheet1!$I3,1),INDEX(BBU!$D$2:$G$241,Sheet1!$I3,3))]. Formula tersebut dibaca “jika jenis kelamin responden adalah laki-laki, maka masukkan data dari sheet BBU dengan nilai IBBUTBU yang tertera dari kolom ke satu, jika tidak maka masukkan data dari kolom ketiga”. Kolom 1 adalah nilai BBUmed untuk laki-laki, sementara kolom 3 adalah nilai BBUmed untuk perempuan.
Formula yang digunakan untuk mendapatkan BBUstandar ialah [=IF($B2=1,INDEX(BBU!$D$2:$G$241,Sheet1!$I2,2),INDEX(BBU!$D$2:$G$241,Sheet1!$I2,4))]. Formula tersebut dibaca “jika jenis kelamin responden adalah laki-laki, maka masukkan data dari sheet BBU dengan nilai IBBUTBU yang tertera dari kolom kedua, jika tidak maka masukkan data dari kolom keempat”. Kolom 2 adalah nilai BBUsd untuk laki-laki, sementara kolom 4 adalah nilai BBUsd untuk perempuan. Baik formula untuk mencari BBUmed maupun BBUsd dapat disalin ke baris berikutnya untuk mengetahui semua nilai responden.
Nilai z-BBU didapatkan dengan formula [=($E2-$K2)/($L2-$K2)]. Formula tersebut didapat dari rumus untuk mencari z-score, yaitu =(BBaktual-BBUmed)/(BBUsd-BBUmed). Formula tersebut dapat disalin dengan cara ditarik ke bawah, untuk mengetahui nilai baris berikutnya. Status gizi responden didapat dengan formula [=IF($M22,"gemuk","normal"))]. Formula tersebut didapat dari cut off point pada z-score yaitu “kurus” untuk z z > 2, dan “gemuk” untuk z >2. Formula tersebut dapat disalin ke baris berikutnya. Berikut hasil dari prosedur diatas.
Tabel 1. Status Gizi berdasarkan Z-BBU
Kode IBBUTBU BBUmed BBUsd ZBBU Status Gizi
3077 13 9.5 10.6 -0.45455 normal
1118 73 20.7 23.6 -0.24138 normal
1118 19 10.8 12 2.416667 gemuk
3081 19 11.5 12.7 -1.25 normal
2072 40 15.2 17 -1.22222 normal
1063 121 31.4 38.7 -1.0137 normal
1063 39 15 16.8 -1.11111 normal
3110 25 11.8 13.2 0.857143 normal
3110 25 11.8 13.2 0.142857 normal
2064 27 12.7 14.4 0.176471 normal

Nilai z-score berikutnya yang akan dihitung adalah TB/U. Untuk mencari nilai z-score TB/U dibutuhkan TBUmedian dan TBUstandar dari masing-masing responden. Data ini diacu pada usia dan jenis kelamin. Formula yang digunakan untuk mendapatkan TBUmed ialah [=IF($B2=1,INDEX(TBU!$D$2:$G$241,Sheet1!$I2,1),INDEX(TBU!$D$2:$G$241,Sheet1!$I2,3))]. Formula tersebut dibaca “jika jenis kelamin responden adalah laki-laki, maka masukkan data dari sheet TBU dengan nilai IBBUTBU yang tertera dari kolom ke satu, jika tidak maka masukkan data dari kolom ketiga”. Kolom 1 adalah nilai TBUmed untuk laki-laki, sementara kolom 3 adalah nilai TBUmed untuk perempuan.
Formula yang digunakan untuk mendapatkan TBUstandar ialah [=IF($B2=1,INDEX(TBU!$D$2:$G$241,Sheet1!$I2,2),INDEX(TBU!$D$2:$G$241,Sheet1!$I2,4))]. Formula tersebut dibaca “jika jenis kelamin responden adalah laki-laki, maka masukkan data dari sheet TBU dengan nilai IBBUTBU yang tertera dari kolom kedua, jika tidak maka masukkan data dari kolom keempat”. Kolom 2 adalah nilai TBUsd untuk laki-laki, sementara kolom 4 adalah nilai TBUsd untuk perempuan. Baik formula untuk mencari TBUmed maupun TBUsd dapat disalin ke baris berikutnya untuk mengetahui semua nilai responden.
Nilai z-TBU didapatkan dengan formula [=($F2-$P2)/($Q2-$P2)]. Formula tersebut didapat dari rumus untuk mencari z-score, yaitu =(TBaktual-TBUmed)/(TBUsd-TBUmed). Formula tersebut dapat disalin dengan cara ditarik ke bawah, untuk mengetahui nilai baris berikutnya. Status gizi responden didapat dengan formula [=IF($R22,"tinggi","normal"))]. Formula tersebut didapat dari cut off point pada z-score yaitu “pendek” untuk z z > 2, dan “tinggi” untuk z >2. Formula tersebut dapat disalin ke baris berikutnya.
Tabel 2. Status Gizi berdsarkan Z-TBU
Kode IBBUTBU TBUmed TBUsd ZTBU Status Gizi
3077 13 74.3 77.1 2.035714 tinggi
1118 73 116.1 121 -1.2449 normal
1118 19 80.9 84 -3.51613 pendek
3081 19 82.4 85.4 -4.13333 pendek
2072 40 97 101 -0.75 normal
1063 121 137.5 143.6 -1.06557 normal
1063 39 96.3 100.2 -0.58974 normal
3110 25 84.5 87.7 0.78125 normal
3110 25 84.5 87.7 1.09375 normal
2064 27 87.2 90.6 -0.64706 normal

Nilai z-score berikutnya yang akan dihitung adalah BB/TB. Untuk mencari nilai z-score BB/TB dibutuhkan BBTBmedian dan BBTBstandar dari masing-masing responden. Data ini diacu pada usia dan jenis kelamin. Formula yang digunakan untuk mendapatkan BBBmed ialah [=IF($B2=1,INDEX(BBTB!$C$2:$F$212,Sheet1!$H2,1),INDEX(BBTB!$C$2:$F$212,Sheet1!$H2,3))]. Formula tersebut dibaca “jika jenis kelamin responden adalah laki-laki, maka masukkan data dari sheet BBTB dengan nilai IBBTB yang tertera dari kolom ke satu, jika tidak maka masukkan data dari kolom ketiga”. Kolom 1 adalah nilai BBTBmed untuk laki-laki, sementara kolom 3 adalah nilai BBTBmed untuk perempuan.
Formula yang digunakan untuk mendapatkan BBTBstandar ialah [=IF($B2=1,INDEX(BBTB!$C$2:$F$212,Sheet1!$H2,2),INDEX(BBTB!$C$2:$F$212,Sheet1!$H2,4))]. Formula tersebut dibaca “jika jenis kelamin responden adalah laki-laki, maka masukkan data dari sheet BBTB dengan nilai IBBTB yang tertera dari kolom kedua, jika tidak maka masukkan data dari kolom keempat. Kolom 2 adalah nilai BBTBsd untuk laki-laki, sementara kolom 4 adalah nilai BBTBsd untuk perempuan. Baik formula untuk mencari BBTBmed maupun BBTBsd dapat disalin ke baris berikutnya untuk mengetahui semua nilai responden.
Nilai z-BBTB didapatkan dengan formula [=($E2-$U2)/($V2-$U2)]. Formula tersebut didapat dari rumus untuk mencari z-score, yaitu =(BBaktual-BBTBmed)/(BBTBsd-BBTBmed). Formula tersebut dapat disalin dengan cara ditarik ke bawah, untuk mengetahui nilai baris berikutnya. Status gizi responden didapat dengan formula [=IF($W22,"lebih","normal"))]. Formula tersebut didapat dari cut off point pada z-score yaitu “kurang” untuk z z > 2, dan “lebih” untuk z >2. Formula tersebut dapat disalin ke baris berikutnya.
Hasil yang didapat untuk nilai z-BBTB tidak tercantum semua, terdapat beberapa data yang tidak memiliki hasil (#REF!). Hal ini dikarenakan responden memiliki nilai IBBTB yang sangat besar atau terlalu kecil, sehingga tidak terseda pada data. Data BBTB median dan BBTB standar yang tersedia adalah dengan nilai IBBTB 1-211.
Tabel 3. Status Gizi berdasarkan Z-BBTB
Kode IBBTB BBTBmed BBTBsd ZBBTB Status Gizi
3077 63 10.6 11.5 -1.77778 normal
1118 123 18.7 20.4 0.764706 normal
1118 43 8.4 9.1 7.571429 lebih
3081 43 8.5 9.4 1.666667 normal
2072 91 13.9 15 -0.81818 normal
1063 165 27.3 31 -0.89189 normal
1063 91 13.9 15 -0.81818 normal
3110 77 11.9 12.9 1.1 normal
3110 79 12.2 13.1 -0.22222 normal
2064 73 11.9 13 1 normal

Status gizi yang telah didapat dengan perhitungan z-score, kemudian dihitung jumlahnya untuk setiap kategori. Fungsi yang digunakan adalah COUNTIF. Fungsi ini digunkan untuk menghitung jumlah anggota dengan persyaratan tertentu. Berikut formula yang digunakan untuk menghitung anggota setiap kategori :
Z-BBU
Kurus [=COUNTIF($N$2:$N$33,"kurus")]
Normal [=COUNTIF($N$2:$N$33,"normal")]
Gemuk [=COUNTIF($N$2:$N$33,"gemuk")]
Z-TBU
Pendek [=COUNTIF($S$2:$S$33,"pendek")]
Normal [=COUNTIF($S$2:$S$33,"normal")]
Tinggi [=COUNTIF($S$2:$S$33,"tinggi")]
Z-BBTB
Kurang [=COUNTIF($X$2:$X$33,"kurang")]
Normal [=COUNTIF($X$2:$X$33,"normal")]
Lebih [=COUNTIF($X$2:$X$33,"lebih")]

Tabel 4. Rekap data status gizi berdasarkan Z-BBU
Status Gizi Jumlah (%)
kurus 3 9.4
normal 22 68.8
gemuk 7 21.9
total 32 100.0

Tabel 5. Rekap data status gizi berdasarkan Z-TBU
Status Gizi Jumlah (%)
pendek 6 18.8
normal 21 65.6
tinggi 5 15.6
total 32 100.0

Tabel 6. Rekap data status gizi berdasarkan Z-BBTB
Status Gizi Jumlah (%)
kurang 2 6.7
normal 19 63.3
lebih 9 30.0
total 30 100.0
Kemudian semua anggota untuk setiap perhitungan z-score dijumlahkan untuk mengetahui persentase setiap kategori. Penjumlahan anggota dapat menggunakan fungsi SUM dengan formula [=SUM(S35:S37)], S35:S37 adalah range data yang akan dijumlahkan. Persentase didapatkan dengan formula [=(S35/$S$38)*100]. Formula tersebut didapat dari rumus persentase, yaitu =(jumlah anggota kategori)/(total anggota z-score)×100%. Tanda string ($) pada S38 maksudnya adalah, agar dalam setiap perhitungan ketika disalin ke baris berikutnya, maka sel S38 akan tetap digunakan.

DIET UNTUK HIPERTENSI DAN DISLIPIDEMIA

KATA PENGANTAR
Kemajuan teknologi yang mengubah gaya hidup dan sosial ekonomi masyarakat di negara maju maupun negara berkembang telah menyebabkan transisi epidemioloKATA PENGANTAR
Kemajuan teknologi yang mengubah gaya hidup dan sosial ekonomi masyarakat di negara maju maupun negara berkembang telah menyebabkan transisi epidemiologi sehingga mengakibatkan munculnya berbagai penyakit. Selain dari kemajuan teknologi, perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia termasuk pola makan dan aktivitas menentukan kesehatan dan penyakit yang dapat diderita.
Tekanan darah tinggi (hipertensi) merupakan salah satu penyakit yang mempertinggi resiko penyakit degeneratif lain. Sesuai dengan keadaan penyakit, diet makanan dapat diberikan sebagai alternatif penyembuhan atau perbaikan. Pola makan yang baik, yaitu beragam-bergizi-berimbang juga dapat mengurangi risiko terjadinya penyakit degeneratif.
Laporan Diet pada Hipertensi dan Dislipidemia ini merupakan salah satu cara bagi mahasiswa agar lebih memahami bahasan tentang hipertensi dan dislipidemia, serta mampu meenyusun menu diet yang baik bagi penderita hipertensi dan dislipidemia. Laporan ini hendaknya menjadi pembelajaran untuk Internship Dietetic pada semester berikutnya.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika darah di pompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah manusia dibedakan menjadi dua, yaitu tekanan darah tinggi (hipertensi) dan tekanan darah rendah (hipotensi).
Hipertensi menjadi salah satu faktor penyebab stroke, serangan jantung, gagal ginjal, dan akibat terburuk dari penyakit ini adalah kematian. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang memiliki risiko terkena hipertensi, antara lain: keturunan, usia, intake garam, kolesterol, faktor stres, obesitas atau kegemukan, rokok, kafein, alkohol, dan kuran olahraga (Anonim 2009).
Selain hipertensi, menurut Bahri 2004, faktor yang dapat menjadi penyebab serangan jantung adalah dislipidemia. Dislipidemia merupakan kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang paling utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, kenaikan kadar trigliserida serta penurunan kadar HDL. Dalam proses terjadinya aterosklerosis semuanya mempunyai peran yang penting dan sangat kaitannya satu dengan yang lain, sehingga tidak mungkin dibicarakan sendiri-sendiri. Ketiga-tiganya sekaligus dikenal sebagai Triad Lipid.
Pencegahan bagi seseorang yang masih memiliki tekanan darah normal ataupun mengatasi hipertensi bagi seseorang yang sudah menderita hipertensi, dapat dilakukan dengan mengurangi konsumsi garam dalam makanan, mengkonsumsi makanan yang mengandung kalium, magnesium dan kalsium. Kalium, magnesium dan kalsium mampu mengurangi tekanan darah tinggi, mengurangi minuman beralkohol, berhenti merokok, mengendalikan kolesterol, dan berplahraga secara teratur dapat menurunkan tekanan darah tinggi (Anonim, 2007)
Sedangkan pencegahan yang dilakukan untuk mengatasi dislipidemia yang dapat dilakukan adalah latihan jasmani, penurunan berat badan bagi yang gemuk, dan menghentikan kebiasaan merokok serta minuman alkohol (PERKI, 1995)

Tujuan Umum
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui tentang penyakit hipertensi dan dislipidemia, sehingga dapat menjelaskan tanda dan gejala dari penyakit ini, serta mampu dalam merencanakan dan mengevaluasi diet sesuai dengan tujuan dan syarat diet.
Tujuan Khusus
1. Mempelajari etiologi dan patofisiologi hipertensi dan dislipidemia
2. Mempelajari gambaran klinik dan laboratorik hipertensi dan dislipidemia
3. Mempelajari pengobatan penyakit hipertensi dan dislipidemia
4. Mempelajari tujuan dan syarat diet hipertensi dan dislipidemia
5. Mengidentifikasi makanan atau bahan makanan yang dilarang dan dianjurkan
6. Menghitung kebutuhan energi dan zat gizi penderita hipertensi dan dislipidemia
7. Menghitung kebutuhan bahan makanan untuk penderita hipertensi dan dislipidemia
8. Mengolah dan menyajikan menu untuk penderita hipertensi dan dislipidemia
9. Mengevalusai kandungan energi dan zat gizi dari menu yang tersaji dengan menggunakan DKBM

GAMBARAN UMUM PENYAKIT HIPERTENSI
Hipertensi
Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah satu faktor risiko untuk stroke, serangan jantung, dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis (Anonim 2011). Tabel 1 Klasifikasi tekanan darah
Kategori Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik
Normal < 120 mmHg = 160 mmHg >= 100 mmHg

Penyebab Hipertensi
Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang memiliki risiko terkena hipertensi, antara lain: keturunan, usia, intake garam, kolesterol, faktor stres, obesitas atau kegemukan, rokok, kafein, alkohol, dan kuran olahraga (Anonim 2009).
• Keturunan
Jika seseorang memiliki orang-tua atau saudara yang memiliki tekanan darah tinggi, maka kemungkinan ia menderita tekanan darah tinggi lebih besar. Statistik menunjukkan bahwa masalah tekanan darah tinggi lebih tinggi pada kembar identik daripada yang kembar tidak identik. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ada bukti gen yang diturunkan untuk masalah tekanan darah tinggi.
• Usia
Penelitian menunjukkan bahwa seraya usia seseorang bertambah, tekanan darah pun akan meningkat. Anda tidak dapat mengharapkan bahwa tekanan darah Anda saat muda akan sama ketika Anda bertambah tua. Namun Anda dapat mengendalikan agar jangan melewati batas atas yang normal.

• Garam
Garam dapat meningkatkan tekanan darah dengan cepat pada beberapa orang, khususnya bagi penderita diabetes, penderita hipertensi ringan, orang dengan usia tua, dan mereka yang berkulit hitam.
• Kolesterol
Kandungan lemak yang berlebih dalam darah Anda, dapat menyebabkan timbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah. Hal ini dapat membuat pembuluh darah menyempit dan akibatnya tekanan darah akan meningkat. Kendalikan kolesterol Anda sedini mungkin.
• Obesitas / Kegemukan
Orang yang memiliki berat badan di atas 30 persen berat badan ideal, memiliki kemungkinan lebih besar menderita tekanan darah tinggi.
• Stres
Stres dan kondisi emosi yang tidak stabil juga dapat memicu tekanan darah tinggi.
• Rokok
Merokok juga dapat meningkatkan tekanan darah menjadi tinggi. Kebiasan merokok dapat meningkatkan risiko diabetes, serangan jantung dan stroke. Karena itu, kebiasaan merokok yang terus dilanjutkan ketika memiliki tekanan darah tinggi, merupakan kombinasi yang sangat berbahaya yang akan memicu penyakit-penyakit yang berkaitan dengan jantung dan darah.
• Kafein
Kafein yang terdapat pada kopi, teh maupun minuman cola bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah.
• Alkohol
Konsumsi alkohol secara berlebihan juga menyebabkan tekanan darah tinggi.
• Kurang Olahraga
Kurang olahraga dan bergerak bisa menyebabkan tekanan darah dalam tubuh meningkat. Olahraga teratur mampu menurunkan tekanan darah tinggi Anda namun jangan melakukan olahraga yang berat jika Anda menderita tekanan darah tinggi.

Penanggulangan Hipertensi
Hipertensi dapat ditanggulangi dan dicegah dengan cara, antara lain: mengurangi konsumsi garam dalam makanan, mengkonsumsi makanan yang mengandung kalium, magnesium dan kalsium. Kalium, magnesium dan kalsium mampu mengurangi tekanan darah tinggi, mengurangi minuman beralkohol, berhenti merokok, mengendalikan kolesterol, dan berplahraga secara teratur dapat menurunkan tekanan darah tinggi (Anonim 2007).
Dislipidemia
Dislipidemia merupakan kelaianan metabolisme lipid yang ditandai oleh kelainan (peningkatan atau penurunan), fraksi lipid dalam plasma, kelaianan fraksi lipid yang utama adalah kenaikan kadar kolesterol total,kenaikan kadar trigliserid serta penurunan kadar kolsterol HDL. Dalam proses terjadinya aterosklerosis ketiganya mempunyai peran penting dan berkaitan, sehingga dikenal sebagai triad lipid , secara klinis dislipidemia diklasifikasikan menjadi 3 yaitu: hiperkolesteromia, hipertrigliseridemia, dan campuran hiperkolesteromia dan hipertrigliseridemia (Anonim 2007).
Penanggulangan Dislipidemia
Pencegahan yang dilakukan untuk mengatasi dislipidemia adalah latihan jasmani, penurunan berat badan bagi yang gemuk, dan menghentikan kebiasaan merokok serta minuman alkohol (PERKI, 1995)

TUJUAN DAN SYARAT DIET PENYAKIT HIPERTENSI
Tujuan Diet
Tujuan diet garam rendah adalah membantu menghilangkan retensi garam atau air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.
Syarat Diet
Syarat-syarat Diet Garam Rendah adalah :
1. Cukup energi, protein, mineral, dan vitamin.
2. Bentuk makanan sesuai dengan keadaan penyakit.
3. Jumlah natrium disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam atau air dan atau hipertensi.
a. DRG I = 200-400 mg Na (tanpa garam dapur)
b. DRG II = 600-800 mg Na (1/2 sdt garam dapur)
c. DRG III = 1000-1200 mg Na (1 sdt garam dapur)

BAHAN MAKANAN YANG DIANJURKAN DAN DILARANG
Tabel 1. Bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan
Bahan Makanan Dianjurkan Tidak Dianjurkan
Sumber Karbohidrat Beras, kentang, singkong, terigu, tapioka, hunkwe, gula, makanan yang diolah dari bahan makanan tersebut di atas tanpa garam dapur dan soda seperti: makaroni, mi, bihun, roti, biskuit, kue kering Roti, biskuit dan kue-kue yang dimasak dengan garam dapur dan atau baking powder dan soda
Sumber Protein Hewani Daging dan ikan maksimal 100g sehari; telur maksimal 1 btr sehari Otak, ginjal,lidah, sardin; daging, ikan, susu, dan telur yang diawet dengan garam dapur seperti daging asap, ham, bacon, dendeng, abon, keju, ikan asin, ikan kaleng, kornet, ebi, udang kering, telur asin, dan telur pindang
Sumber Protein Nabati Semua kacang-kacangan dan hasilnya diolah dan dimasak tanpa garam dapur Keju, kacang tanah dan semua kacang-kacangan dan hasilnya yang dimasak dengan garam dapur dan lain ikatan natrium
Sayuran Semua sayuran segar; sayuran yang diawet tanpa garam dapur dan natrium benzoat Sayuran yang dimasak dan diawet dengan garam dapur dn lain ikatan natrium, seperti sayuran dalam kaleng, sawi asin, asinan, dan acar
Buah-buahan Semua buah-buahan segar; buah yang diawet tanpa garam dapur dan natrium benzoat Buah-buahan yang diawet dengan garam dapur dan lain ikatan natrium, seperti buah dalam kaleng
Lemak Minyak goreng, margarin, dan mentega tanpa garam Margarin dan mentega biasa
Minuman Teh, kopi Minuman ringan
Bumbu Semua bumbu kering yang tidak mengandung garam dapur dan lain ikatan natrium. Garam dapur sesuai ketentuan untuk DGR II dan DGR III Garam dapur untuk DGR I, baking powder, soda kue, vetsin, dan bumbu-bumbu yang mengandung garam dapur seperti: kecap, terasi, maggi, tomato ketchup, petis, dan tauco.

KEBUTUHAN ENERGI DAN ZAT GIZI
Contoh Kasus
Bu Sofi berusia 35 tahun, seorang pemilik dan berjualan di tokonya di Pasar Jumat. Tinggi Badan 155 cm, dan berat badan 65 kg. Menderita telah satu minggu sakit kepala, kuping berdenging, mual dan anoreksia, sehingga tidak dapat berjualan. Beliau istirahat di rumah. Setelah diperiksa tekanan darah 160/100 mmHg, nadi 84 kali per menit. Pada pemeriksaan dada jantung dan paru-paru dalam batas normal. Abdomen normal. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar Hb 13 g/dl, trigliserida 200 mg/dl, kolesterol total adalah 300 mg per dl darah, HDL 35 mg/dl.
Diketahui
BB= 65 kg
TB= 155 cm
IMT= BB/(TB)2
= 65/(1.55)2
= 27
Status gizi= obese 1
Usia= 35 tahun
BB ideal= TB-100-(10%(TB-100))
= 155-100-(10%(155-100))
= 49,5 kg
AMB = 655+(9,6 x BB)+(1,7 x TB)-(4,7 x U)
= 655+(9,6 x 49,5)+(1,7 x 155)-(4,7 x 35)
=1229 kkal
Kebutuhan energi:
=AMB x FA x FS – 397,96
= 1229 x 1,3 x 1 – 397,96
=1597,96 – 397,96
= 1200 kkal
Kebutuhan protein cukup, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi
10% x 1200 kkal / 4= 30 gram
15% x 1200 kkal / 4=45 gram
Kebutuhan lemak sedang, kurang dari 30% dari kebutuhan energi
Maksimal 30% x 1200 kkal / 9 = 40 gram
Lemak jenuh kurang dari 10%, yaitu 10% x 1200 kkal / 9= 13 gram
Lemak tak jenuh 10-15%
10% x 1200 kkal / 9 =13 gram
15% x 1200 kkal / 9 =20 gram
Kebutuhan cairan, vitamin, dan mineral
Kebutuhan cairan cukup, vitamin dan mineral cukup. Terutama kalium dan kalsium. Serat cukup terutama serat larut air.
Diketahui bahwa berat badan ibu Sofi adalah 65 kg dan tinggi badan 155 cm sehingga IMT ibu Sofi adalah 27. Berdasarkan ukuran IMT, status gizi ibu Sofi adalah obese 1. Berat badan yang ideal untuk ibu Sofi adalah 49,5 kg. Berdasarkan berat badan idealnya, kebutuhan energi ibu Sofi adalah 1200 kkal. Kebutuhan protein cukup, yaitu sebesar 10-15% dari kebutuhan energi atau antara 30-45 gram dalam sehari. Kebutuhan lemak sedang, yaitu tidak lebih dari 30% dari kebutuhan energi sehari atau kurang dari 40 gram sehari dengan komposisi lemak jenuh kurang dari 10% dari kebutuhan energi sehari, yaitu 13 gram dan lemak tak jenuh 10-15% dari kebutuhan energi sehari, yaitu antara 13-20 gram.

KEBUTUHAN BAHAN MAKANAN
Frekuensi Makan dan Pembagian Energi setiap Acara Makan Penyakit Hipertensi dan Dislipidemia
Frekuensi makan yang diberikan kepada Bu sofi adalah lima kali acara makan yang terdiri dari makan pagi, makan siang, makan malam, dan dua kali selingan. Pemberian energi untuk masing-masing makan yaitu makan pagi sebesar 25% dari total kebutuhan energi sehari, untuk setiap selingan diberikan sebanyak 15% dari total kebutuhan energi sehari sehingga selingan memberikan kebutuhan energi sebesar 30% dari total kebutuhan energi sehari, makan siang dan makan malam masing-masing diberikan 30% dari total kebutuhan energi sehari.
Kebutuhan energi sehari pada kasus Bu Sofi yang mengalami hipertensi dan dislipidemia adalah 1200 Kal. Kebutuhan energi sehari tersebut kemudian dibagi-bagi berdasarkan acara makan. Makan pagi memerlukan 25% energi, artinya energi yang diberikan untuk makan pagi adalah 300 Kal. Selingan I dan selingan II membutuhkan masing-masing 15% energi, artinya energi yang diberikan untuk setiap selingan adalah 180 Kal. Sedangkan makan siang dan malam masing-masing membutuhkan 30% energi sehingga energi yang diberikan untuk masing-masing acara makan adalah sebesar 360 Kal.
Kebutuhan Bahan Makan Setiap Acara Makan Penyakit Hipertensi dan Dislipidemia
Asupan zat gizi yang cukup itu sangat diperlukan oleh Bu Sofi yang menderita hipertensi dan dislipidemia untuk mempercepat proses penyembuhan atau mencegah terjadinya komplikasi. Kebutuhan zat gizi tersbeut dapat dipenuhi dari menu diet sehari-hari. Dengan demikian, pengaturan diet perlu dilakukan setiap harinya. Saalah satu kerangka menu sehari untuk setiap acara makan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2. Kebutuhan bahan makan setiap acara makan penyakit hipertensi dan dislipidemia
Waktu makan dan kandungan energi Kerangka Menu Bahan Jumlah Kandungan Gizi
Makanan SP G E (kal) KH (g) L (g) P (g) Na (mg)
Pagi Makanan pokok Nasi lunak Beras 1 50 175 40 - 4 2.5
(20% X 1908 Lauk hewani Tumis Ayam + Ayam tanpa kulit 0,5 20 25 - 2 7 20
= 382 Kal) Sayuran Wortel Wortel 1 100 25 10 - 3 70
Minuman Kopi susu Susu 1 100 125 10 6 7 50
Subtotal 350 60 8 21 142.5
Selingan I dan II Snack manis Pudding buah Gula 3 30 150 36 - - 0.1
(30% X 1908 Buah Mangga Mangga 2 180 100 24 - - -
= 572 Kal) Susu Susu Susu low fat 1 25 75 10 - 7 9.5
Subtotal 325 70 - 7 9.6
Siang Makanan pokok Nasi Beras 2 100 350 80 - 8 5
(25% X 1908 Lauk hewani Pepes ikan Ikan 1 40 50 - 2 7 40
= 477 Kal) Ayam kecap Ayam 1 40 50 - 2 7 40
Minuman Susu Susu skim bubuk 1 20 75 10 - 7 94
Gula 0.50 5 25 6 - - 0
Sayur Oseng Kangkung + wortel + buncis Wortel 0.5 50 13 2,5 - 0,5 35
Kangkung 0.5 50 13 2,5 - 0,5 0
Buncis 0.5 50 13 2,5 - 0,5 0
Subtotal 589 103,5 4 45,5 214
Malam (25% X 1908 Makanan pokok Nasi Beras 2 100 350 80 - 8 5
= 477 Kal) Lauk hewani Pepes ikan Ikan 1 40 50 - 2 7 40
Ayam kecap Ayam 1 40 50 - 2 7 40
Minuman Susu Susu skim bubuk 1 20 75 10 - 7 94
Gula 0.50 5 25 6 - - 0
Sayur Oseng Kangkung + wortel + buncis Wortel 0.5 50 13 2,5 - 0,5 35
Kangkung 0.5 50 13 2,5 - 0,5 0
Buncis 0.5 50 13 2,5 - 0,5 0
Subtotal 589 103,5 4 44,5 214
Total 1853 337 16 119 580.1

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa asupan energi dari menu yang diberikan di atas memenuhi kebutuhan. Energi yang dibutuhkan Bu sofi adalah 1712 Kal – 2099 Kal. Adapun tingkat kecukupan zat-zat gizi yang lain berdasarkan jumlah asupan energi pada menu di atas tidak sesuai dengan syarat diet, yaitu protein 25,7% yang seharusnya 10%-20% dan karbohidrat 72,7% yang seharusnya 50%-60%, sedangkan kecukupan lemak sudah sesuai denga syarat diet, yaitu 7,7%. Selain itu, asupan natrium pada menu di atas juga tidak melebihi batas seperti pada syarat diet, yaitu antara 600-800 mg per hari.
Kebutuhan Bahan Makanan Sehari Penyakit Hipertensi dan Dislipidemia
Pengaturan bahan makanan yang diberikan kepada penderita hipertensi dan dislipidemia perlu diperhatikan agar sesuai dengan keadaan penyakit. Berdasarkan kerangka menu sehari yang diberikan kepada Bu Sofi di atas maka dapat diketahui golongan bahan makanan yang dibutuhkan untuk menyusun menu tersebut. Golongan dan jenis bahan makanan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3 Kebutuhan bahan makanan sehari dalam setiap acara makan penyakit hipertensi dan dislipidemia
Golongan Bahan Makanan Bahan Makanan SP G
Serealia dan olahannya Beras 5 250
Daging unggas dan ikan Ikan 2 80
Ayam 2½ 100
Sayur-sayuran Kangkung 1 100
Wortel 2 200
Buncis 1 100
Buah-buahan dan Gula Mangga 2 180
Gula 4 40
Lemak dan Minyak Minyak 1 5
Margarin 4 20
Susu Susu cair 1 100
Susu non fat 1 25
Susu bubuk 2 40

PENGOLAHAN DAN PENYAJIAN
Pengolahan dan penyajian diet rendah garam dan diet dislipidemia
Tabel 4. Nama hidangan, bahan utama, metode pengolahan, dan alat saji diet hipertensi dan dislipidemia
Menu Bahan
Makanan Bahan Tambahan Metoda Pengolahan Alat saji
Nasi lunak
Tumis Ayam + Beras - Perebusan + pengukusan Piring porselen
Ayam tanpa kulit garam tumis Piring porselen
Wortel Wortel
pala rebus Mangkuk
Kopi susu Susu Air + gula Gelas
Pudding buah Gula Agar-agar rebus Piring kecil
Mangga Mangga
Susu Susu low fat Gelas
Nasi Beras Rebus + kukus Plato
Pepes ikan Ikan kunyit kukus Plato
Ayam kecap Ayam Gula merah tumis Plato
Susu Susu skim bubuk Gelas
Gula
Oseng Kangkung + wortel + buncis Wortel garam tumis Plato
Kangkung
Buncis

Gambar Masakan
Menu Makan Pagi
• Nasi lunak
• Tumis ayam + wortel
• Kopi susu kedelai
( E : 225 Kal, KH : 30 g, L : 6,5 g, P : 30 g

Selingan 1 dan 2
• Pudding Mangga
• Susu low fat
( E: 330 Kal, KH: 59 g, L: 7 g, P: 7 g)

Makan Siang
• Nasi putih
• Pepes tahu
• Sup buncis + wortel
• Buah pepaya
( E: 325 Kal, KH: 44 g, L: 7,5 g, P: 18,5 g)

Makan Malam
• Nasi Putih
• Tumis bayam
• Pepes ikan
• Buah pepaya
( E: 360Kal, KH: 57 g, L: 3 g, P: 12g)

EVALUASI HIDANGAN
Evaluasi untuk menu makan pagi yaitu nasi lunak sudah cukup baik, pemberian kopi susu kedelai sebaiknya ditanyakan dulu kepada pasien mengenai keluhan gastritis. Konsumsi kopi pada pasien dengan keluhan gastritis sebaiknya dibatasi karena dapat merangsang kerja lambung. Ayam suwir-wortel sudah cukup baik tingkat kematangannya, tetapi rasa terlalu pedas. Evaluasi untuk puding mangga adalah rasanya yang kurang manis. Oleh karena itu, jenis mangga yang dipakai haruslah lebih manis untuk menambah rasa manis pada puding tanpa perlu penambahan gula pasir. Kombinasi jumlah gula yang lebih besar dipadukan dengan mengurangi jumlah mangga juga dapat diaplikasikan pada selingan ini sehingga kandungan energi tidak melebihi kecukupan.
Evaluasi untuk makan siang, ukuran saji sup ayam terlalu banyak. Sebaiknya sayuran yang dimasukkan ke dalam sup hanya 0.75 SP. Aroma sup ayam sudah baik karena ditambahkan sedikit bubuk pala ke dalam sup. Selain itu, ayam disangrai terlebih dahulu sebelum dimasukkan dalam sup sehingga rasa sup ayam tidak terlalu amis. Pepes tahu sudah baik teksturnya, namun sebaiknya tidak digunakan cabai sebagai isi pepes. Pepaya yang disajikan pada menu makan siang terlalu matang sehingga warna kurang menarik. Evaluasi untuk tumis bayam dan wortel pada menu makan malam yaitu ukuran saji yang terlalu banyak dan potongan wortel yang terlalu tipis. Nasi yang dimasak sudah baik. Bumbu pada pepes ikan terlalu banyak dan seharusnya tidak menggunakan cabai rawit. Tekstur ikan sudah cukup baik, tetapi kualitas ikan kurang segar.

KESIMPULAN
Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Pencegahan yang dilakukan untuk mengatasi dislipidemia adalah latihan jasmani, penurunan berat badan bagi yang gemuk, dan menghentikan kebiasaan merokok serta minuman alkohol. Diet yang dapt diberikan dalah Diet Rendah Garam. Tujuan diet garam rendah adalah membantu menghilangkan retensi garam atau air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.

DAFTAR PUSTAKA
[Anonim]. 2007. Beberapa macam hipertensi. http://sehatherbal.blogspot.com/ [27 Maret 2011]

_______. 2008. Tekanan darah tinggi. http://id.wikipedia.org/wiki/Tekanan_darah_tinggi [27 Maret 2011]

_______. 2009. Mengatasi tekanan darat tinggi. http://kumpulan.info/ [27 Maret 2011]l

[PERKI]. 1995. Pedoman Deteksi, Prevensi dan Tatalaksana Dislipidemia dalam penanggulangan Penyakit Jantung Koroner, PERKI edisi 1995.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3503/1/gizi-bahri3.pdf

Liza. 2007. Dislipidemia. http://drlizakedokteran.blogspot.com/ [27 Maret 2011]

LAMPIRAN
Resep Puding Mangga
Bahan:
- agar-\agar

Cara Pengolahan:
- Dicampurkan agar-agar dengan gula sebanyak 50 gr atau secukupnya.
- Ditambahkan air sebanyak 600 ml dan dipanaskan sambil terus diaduk hingga mendidih.
- Dimatikan api dan didiamkan selama 3 menit, kemudian dituang ke cetakkan yang sudah disusun dengan mangga.
- Didinginkan dalam lemari es selama 30 menit. Siap dihidangkan.

• Susu Low Fat
- Direbus air hingga mendidih,
- Dituang ke dalam cangkir yang telah diisi susu bubuk,
- Disajikan hangat
Nasi Putih
Bahan
- Beras
Cara Pengolahan :
Beras direbus sampai airnya habis. Kemudian dikukus sampai matang

Pepes Tahu
Bahan :
- Tahu
- Telur
Cara Pengolahan :
Tahu dihancurkan kemudian dilumuri dengan telur sebagai perekat. Tahu dibungkus dengan daun pisang dan kmudian dikukus.

Sop Ayam Wortel Buncis
Bahan :
- Ayam
- Wortel
- Buncis
Cara Pengolahan :
Ayam disangrai dahulu agar tidak amis. Bumbu dihaluskan dan direbus bersama air. Ayam dimasukkan ketika air telah mendidih. Kemudian dimasukkan wortel dan buncis. Pala dan lada dapat ditambahkan sebagai pemberi aroma.

gi sehingga mengakibatkan munculnya berbagai penyakit. Selain dari kemajuan teknologi, perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia termasuk pola makan dan aktivitas menentukan kesehatan dan penyakit yang dapat diderita.
Tekanan darah tinggi (hipertensi) merupakan salah satu penyakit yang mempertinggi resiko penyakit degeneratif lain. Sesuai dengan keadaan penyakit, diet makanan dapat diberikan sebagai alternatif penyembuhan atau perbaikan. Pola makan yang baik, yaitu beragam-bergizi-berimbang juga dapat mengurangi risiko terjadinya penyakit degeneratif.
Laporan Diet pada Hipertensi dan Dislipidemia ini merupakan salah satu cara bagi mahasiswa agar lebih memahami bahasan tentang hipertensi dan dislipidemia, serta mampu meenyusun menu diet yang baik bagi penderita hipertensi dan dislipidemia. Laporan ini hendaknya menjadi pembelajaran untuk Internship Dietetic pada semester berikutnya.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika darah di pompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah manusia dibedakan menjadi dua, yaitu tekanan darah tinggi (hipertensi) dan tekanan darah rendah (hipotensi).
Hipertensi menjadi salah satu faktor penyebab stroke, serangan jantung, gagal ginjal, dan akibat terburuk dari penyakit ini adalah kematian. Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang memiliki risiko terkena hipertensi, antara lain: keturunan, usia, intake garam, kolesterol, faktor stres, obesitas atau kegemukan, rokok, kafein, alkohol, dan kuran olahraga (Anonim 2009).
Selain hipertensi, menurut Bahri 2004, faktor yang dapat menjadi penyebab serangan jantung adalah dislipidemia. Dislipidemia merupakan kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid yang paling utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, kenaikan kadar trigliserida serta penurunan kadar HDL. Dalam proses terjadinya aterosklerosis semuanya mempunyai peran yang penting dan sangat kaitannya satu dengan yang lain, sehingga tidak mungkin dibicarakan sendiri-sendiri. Ketiga-tiganya sekaligus dikenal sebagai Triad Lipid.
Pencegahan bagi seseorang yang masih memiliki tekanan darah normal ataupun mengatasi hipertensi bagi seseorang yang sudah menderita hipertensi, dapat dilakukan dengan mengurangi konsumsi garam dalam makanan, mengkonsumsi makanan yang mengandung kalium, magnesium dan kalsium. Kalium, magnesium dan kalsium mampu mengurangi tekanan darah tinggi, mengurangi minuman beralkohol, berhenti merokok, mengendalikan kolesterol, dan berplahraga secara teratur dapat menurunkan tekanan darah tinggi (Anonim, 2007)
Sedangkan pencegahan yang dilakukan untuk mengatasi dislipidemia yang dapat dilakukan adalah latihan jasmani, penurunan berat badan bagi yang gemuk, dan menghentikan kebiasaan merokok serta minuman alkohol (PERKI, 1995)

Tujuan Umum
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui tentang penyakit hipertensi dan dislipidemia, sehingga dapat menjelaskan tanda dan gejala dari penyakit ini, serta mampu dalam merencanakan dan mengevaluasi diet sesuai dengan tujuan dan syarat diet.
Tujuan Khusus
1. Mempelajari etiologi dan patofisiologi hipertensi dan dislipidemia
2. Mempelajari gambaran klinik dan laboratorik hipertensi dan dislipidemia
3. Mempelajari pengobatan penyakit hipertensi dan dislipidemia
4. Mempelajari tujuan dan syarat diet hipertensi dan dislipidemia
5. Mengidentifikasi makanan atau bahan makanan yang dilarang dan dianjurkan
6. Menghitung kebutuhan energi dan zat gizi penderita hipertensi dan dislipidemia
7. Menghitung kebutuhan bahan makanan untuk penderita hipertensi dan dislipidemia
8. Mengolah dan menyajikan menu untuk penderita hipertensi dan dislipidemia
9. Mengevalusai kandungan energi dan zat gizi dari menu yang tersaji dengan menggunakan DKBM

GAMBARAN UMUM PENYAKIT HIPERTENSI
Hipertensi
Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah satu faktor risiko untuk stroke, serangan jantung, dan merupakan penyebab utama gagal jantung kronis (Anonim 2011). Tabel 1 Klasifikasi tekanan darah
Kategori Tekanan Darah Sistolik Tekanan Darah Diastolik
Normal < 120 mmHg = 160 mmHg >= 100 mmHg

Penyebab Hipertensi
Ada beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang memiliki risiko terkena hipertensi, antara lain: keturunan, usia, intake garam, kolesterol, faktor stres, obesitas atau kegemukan, rokok, kafein, alkohol, dan kuran olahraga (Anonim 2009).
• Keturunan
Jika seseorang memiliki orang-tua atau saudara yang memiliki tekanan darah tinggi, maka kemungkinan ia menderita tekanan darah tinggi lebih besar. Statistik menunjukkan bahwa masalah tekanan darah tinggi lebih tinggi pada kembar identik daripada yang kembar tidak identik. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ada bukti gen yang diturunkan untuk masalah tekanan darah tinggi.
• Usia
Penelitian menunjukkan bahwa seraya usia seseorang bertambah, tekanan darah pun akan meningkat. Anda tidak dapat mengharapkan bahwa tekanan darah Anda saat muda akan sama ketika Anda bertambah tua. Namun Anda dapat mengendalikan agar jangan melewati batas atas yang normal.

• Garam
Garam dapat meningkatkan tekanan darah dengan cepat pada beberapa orang, khususnya bagi penderita diabetes, penderita hipertensi ringan, orang dengan usia tua, dan mereka yang berkulit hitam.
• Kolesterol
Kandungan lemak yang berlebih dalam darah Anda, dapat menyebabkan timbunan kolesterol pada dinding pembuluh darah. Hal ini dapat membuat pembuluh darah menyempit dan akibatnya tekanan darah akan meningkat. Kendalikan kolesterol Anda sedini mungkin.
• Obesitas / Kegemukan
Orang yang memiliki berat badan di atas 30 persen berat badan ideal, memiliki kemungkinan lebih besar menderita tekanan darah tinggi.
• Stres
Stres dan kondisi emosi yang tidak stabil juga dapat memicu tekanan darah tinggi.
• Rokok
Merokok juga dapat meningkatkan tekanan darah menjadi tinggi. Kebiasan merokok dapat meningkatkan risiko diabetes, serangan jantung dan stroke. Karena itu, kebiasaan merokok yang terus dilanjutkan ketika memiliki tekanan darah tinggi, merupakan kombinasi yang sangat berbahaya yang akan memicu penyakit-penyakit yang berkaitan dengan jantung dan darah.
• Kafein
Kafein yang terdapat pada kopi, teh maupun minuman cola bisa menyebabkan peningkatan tekanan darah.
• Alkohol
Konsumsi alkohol secara berlebihan juga menyebabkan tekanan darah tinggi.
• Kurang Olahraga
Kurang olahraga dan bergerak bisa menyebabkan tekanan darah dalam tubuh meningkat. Olahraga teratur mampu menurunkan tekanan darah tinggi Anda namun jangan melakukan olahraga yang berat jika Anda menderita tekanan darah tinggi.

Penanggulangan Hipertensi
Hipertensi dapat ditanggulangi dan dicegah dengan cara, antara lain: mengurangi konsumsi garam dalam makanan, mengkonsumsi makanan yang mengandung kalium, magnesium dan kalsium. Kalium, magnesium dan kalsium mampu mengurangi tekanan darah tinggi, mengurangi minuman beralkohol, berhenti merokok, mengendalikan kolesterol, dan berplahraga secara teratur dapat menurunkan tekanan darah tinggi (Anonim 2007).
Dislipidemia
Dislipidemia merupakan kelaianan metabolisme lipid yang ditandai oleh kelainan (peningkatan atau penurunan), fraksi lipid dalam plasma, kelaianan fraksi lipid yang utama adalah kenaikan kadar kolesterol total,kenaikan kadar trigliserid serta penurunan kadar kolsterol HDL. Dalam proses terjadinya aterosklerosis ketiganya mempunyai peran penting dan berkaitan, sehingga dikenal sebagai triad lipid , secara klinis dislipidemia diklasifikasikan menjadi 3 yaitu: hiperkolesteromia, hipertrigliseridemia, dan campuran hiperkolesteromia dan hipertrigliseridemia (Anonim 2007).
Penanggulangan Dislipidemia
Pencegahan yang dilakukan untuk mengatasi dislipidemia adalah latihan jasmani, penurunan berat badan bagi yang gemuk, dan menghentikan kebiasaan merokok serta minuman alkohol (PERKI, 1995)

TUJUAN DAN SYARAT DIET PENYAKIT HIPERTENSI
Tujuan Diet
Tujuan diet garam rendah adalah membantu menghilangkan retensi garam atau air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.
Syarat Diet
Syarat-syarat Diet Garam Rendah adalah :
1. Cukup energi, protein, mineral, dan vitamin.
2. Bentuk makanan sesuai dengan keadaan penyakit.
3. Jumlah natrium disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam atau air dan atau hipertensi.
a. DRG I = 200-400 mg Na (tanpa garam dapur)
b. DRG II = 600-800 mg Na (1/2 sdt garam dapur)
c. DRG III = 1000-1200 mg Na (1 sdt garam dapur)

BAHAN MAKANAN YANG DIANJURKAN DAN DILARANG
Tabel 1. Bahan makanan yang dianjurkan dan tidak dianjurkan
Bahan Makanan Dianjurkan Tidak Dianjurkan
Sumber Karbohidrat Beras, kentang, singkong, terigu, tapioka, hunkwe, gula, makanan yang diolah dari bahan makanan tersebut di atas tanpa garam dapur dan soda seperti: makaroni, mi, bihun, roti, biskuit, kue kering Roti, biskuit dan kue-kue yang dimasak dengan garam dapur dan atau baking powder dan soda
Sumber Protein Hewani Daging dan ikan maksimal 100g sehari; telur maksimal 1 btr sehari Otak, ginjal,lidah, sardin; daging, ikan, susu, dan telur yang diawet dengan garam dapur seperti daging asap, ham, bacon, dendeng, abon, keju, ikan asin, ikan kaleng, kornet, ebi, udang kering, telur asin, dan telur pindang
Sumber Protein Nabati Semua kacang-kacangan dan hasilnya diolah dan dimasak tanpa garam dapur Keju, kacang tanah dan semua kacang-kacangan dan hasilnya yang dimasak dengan garam dapur dan lain ikatan natrium
Sayuran Semua sayuran segar; sayuran yang diawet tanpa garam dapur dan natrium benzoat Sayuran yang dimasak dan diawet dengan garam dapur dn lain ikatan natrium, seperti sayuran dalam kaleng, sawi asin, asinan, dan acar
Buah-buahan Semua buah-buahan segar; buah yang diawet tanpa garam dapur dan natrium benzoat Buah-buahan yang diawet dengan garam dapur dan lain ikatan natrium, seperti buah dalam kaleng
Lemak Minyak goreng, margarin, dan mentega tanpa garam Margarin dan mentega biasa
Minuman Teh, kopi Minuman ringan
Bumbu Semua bumbu kering yang tidak mengandung garam dapur dan lain ikatan natrium. Garam dapur sesuai ketentuan untuk DGR II dan DGR III Garam dapur untuk DGR I, baking powder, soda kue, vetsin, dan bumbu-bumbu yang mengandung garam dapur seperti: kecap, terasi, maggi, tomato ketchup, petis, dan tauco.

KEBUTUHAN ENERGI DAN ZAT GIZI
Contoh Kasus
Bu Sofi berusia 35 tahun, seorang pemilik dan berjualan di tokonya di Pasar Jumat. Tinggi Badan 155 cm, dan berat badan 65 kg. Menderita telah satu minggu sakit kepala, kuping berdenging, mual dan anoreksia, sehingga tidak dapat berjualan. Beliau istirahat di rumah. Setelah diperiksa tekanan darah 160/100 mmHg, nadi 84 kali per menit. Pada pemeriksaan dada jantung dan paru-paru dalam batas normal. Abdomen normal. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar Hb 13 g/dl, trigliserida 200 mg/dl, kolesterol total adalah 300 mg per dl darah, HDL 35 mg/dl.
Diketahui
BB= 65 kg
TB= 155 cm
IMT= BB/(TB)2
= 65/(1.55)2
= 27
Status gizi= obese 1
Usia= 35 tahun
BB ideal= TB-100-(10%(TB-100))
= 155-100-(10%(155-100))
= 49,5 kg
AMB = 655+(9,6 x BB)+(1,7 x TB)-(4,7 x U)
= 655+(9,6 x 49,5)+(1,7 x 155)-(4,7 x 35)
=1229 kkal
Kebutuhan energi:
=AMB x FA x FS – 397,96
= 1229 x 1,3 x 1 – 397,96
=1597,96 – 397,96
= 1200 kkal
Kebutuhan protein cukup, yaitu 10-15% dari kebutuhan energi
10% x 1200 kkal / 4= 30 gram
15% x 1200 kkal / 4=45 gram
Kebutuhan lemak sedang, kurang dari 30% dari kebutuhan energi
Maksimal 30% x 1200 kkal / 9 = 40 gram
Lemak jenuh kurang dari 10%, yaitu 10% x 1200 kkal / 9= 13 gram
Lemak tak jenuh 10-15%
10% x 1200 kkal / 9 =13 gram
15% x 1200 kkal / 9 =20 gram
Kebutuhan cairan, vitamin, dan mineral
Kebutuhan cairan cukup, vitamin dan mineral cukup. Terutama kalium dan kalsium. Serat cukup terutama serat larut air.
Diketahui bahwa berat badan ibu Sofi adalah 65 kg dan tinggi badan 155 cm sehingga IMT ibu Sofi adalah 27. Berdasarkan ukuran IMT, status gizi ibu Sofi adalah obese 1. Berat badan yang ideal untuk ibu Sofi adalah 49,5 kg. Berdasarkan berat badan idealnya, kebutuhan energi ibu Sofi adalah 1200 kkal. Kebutuhan protein cukup, yaitu sebesar 10-15% dari kebutuhan energi atau antara 30-45 gram dalam sehari. Kebutuhan lemak sedang, yaitu tidak lebih dari 30% dari kebutuhan energi sehari atau kurang dari 40 gram sehari dengan komposisi lemak jenuh kurang dari 10% dari kebutuhan energi sehari, yaitu 13 gram dan lemak tak jenuh 10-15% dari kebutuhan energi sehari, yaitu antara 13-20 gram.

KEBUTUHAN BAHAN MAKANAN
Frekuensi Makan dan Pembagian Energi setiap Acara Makan Penyakit Hipertensi dan Dislipidemia
Frekuensi makan yang diberikan kepada Bu sofi adalah lima kali acara makan yang terdiri dari makan pagi, makan siang, makan malam, dan dua kali selingan. Pemberian energi untuk masing-masing makan yaitu makan pagi sebesar 25% dari total kebutuhan energi sehari, untuk setiap selingan diberikan sebanyak 15% dari total kebutuhan energi sehari sehingga selingan memberikan kebutuhan energi sebesar 30% dari total kebutuhan energi sehari, makan siang dan makan malam masing-masing diberikan 30% dari total kebutuhan energi sehari.
Kebutuhan energi sehari pada kasus Bu Sofi yang mengalami hipertensi dan dislipidemia adalah 1200 Kal. Kebutuhan energi sehari tersebut kemudian dibagi-bagi berdasarkan acara makan. Makan pagi memerlukan 25% energi, artinya energi yang diberikan untuk makan pagi adalah 300 Kal. Selingan I dan selingan II membutuhkan masing-masing 15% energi, artinya energi yang diberikan untuk setiap selingan adalah 180 Kal. Sedangkan makan siang dan malam masing-masing membutuhkan 30% energi sehingga energi yang diberikan untuk masing-masing acara makan adalah sebesar 360 Kal.
Kebutuhan Bahan Makan Setiap Acara Makan Penyakit Hipertensi dan Dislipidemia
Asupan zat gizi yang cukup itu sangat diperlukan oleh Bu Sofi yang menderita hipertensi dan dislipidemia untuk mempercepat proses penyembuhan atau mencegah terjadinya komplikasi. Kebutuhan zat gizi tersbeut dapat dipenuhi dari menu diet sehari-hari. Dengan demikian, pengaturan diet perlu dilakukan setiap harinya. Saalah satu kerangka menu sehari untuk setiap acara makan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 2. Kebutuhan bahan makan setiap acara makan penyakit hipertensi dan dislipidemia
Waktu makan dan kandungan energi Kerangka Menu Bahan Jumlah Kandungan Gizi
Makanan SP G E (kal) KH (g) L (g) P (g) Na (mg)
Pagi Makanan pokok Nasi lunak Beras 1 50 175 40 - 4 2.5
(20% X 1908 Lauk hewani Tumis Ayam + Ayam tanpa kulit 0,5 20 25 - 2 7 20
= 382 Kal) Sayuran Wortel Wortel 1 100 25 10 - 3 70
Minuman Kopi susu Susu 1 100 125 10 6 7 50
Subtotal 350 60 8 21 142.5
Selingan I dan II Snack manis Pudding buah Gula 3 30 150 36 - - 0.1
(30% X 1908 Buah Mangga Mangga 2 180 100 24 - - -
= 572 Kal) Susu Susu Susu low fat 1 25 75 10 - 7 9.5
Subtotal 325 70 - 7 9.6
Siang Makanan pokok Nasi Beras 2 100 350 80 - 8 5
(25% X 1908 Lauk hewani Pepes ikan Ikan 1 40 50 - 2 7 40
= 477 Kal) Ayam kecap Ayam 1 40 50 - 2 7 40
Minuman Susu Susu skim bubuk 1 20 75 10 - 7 94
Gula 0.50 5 25 6 - - 0
Sayur Oseng Kangkung + wortel + buncis Wortel 0.5 50 13 2,5 - 0,5 35
Kangkung 0.5 50 13 2,5 - 0,5 0
Buncis 0.5 50 13 2,5 - 0,5 0
Subtotal 589 103,5 4 45,5 214
Malam (25% X 1908 Makanan pokok Nasi Beras 2 100 350 80 - 8 5
= 477 Kal) Lauk hewani Pepes ikan Ikan 1 40 50 - 2 7 40
Ayam kecap Ayam 1 40 50 - 2 7 40
Minuman Susu Susu skim bubuk 1 20 75 10 - 7 94
Gula 0.50 5 25 6 - - 0
Sayur Oseng Kangkung + wortel + buncis Wortel 0.5 50 13 2,5 - 0,5 35
Kangkung 0.5 50 13 2,5 - 0,5 0
Buncis 0.5 50 13 2,5 - 0,5 0
Subtotal 589 103,5 4 44,5 214
Total 1853 337 16 119 580.1

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa asupan energi dari menu yang diberikan di atas memenuhi kebutuhan. Energi yang dibutuhkan Bu sofi adalah 1712 Kal – 2099 Kal. Adapun tingkat kecukupan zat-zat gizi yang lain berdasarkan jumlah asupan energi pada menu di atas tidak sesuai dengan syarat diet, yaitu protein 25,7% yang seharusnya 10%-20% dan karbohidrat 72,7% yang seharusnya 50%-60%, sedangkan kecukupan lemak sudah sesuai denga syarat diet, yaitu 7,7%. Selain itu, asupan natrium pada menu di atas juga tidak melebihi batas seperti pada syarat diet, yaitu antara 600-800 mg per hari.
Kebutuhan Bahan Makanan Sehari Penyakit Hipertensi dan Dislipidemia
Pengaturan bahan makanan yang diberikan kepada penderita hipertensi dan dislipidemia perlu diperhatikan agar sesuai dengan keadaan penyakit. Berdasarkan kerangka menu sehari yang diberikan kepada Bu Sofi di atas maka dapat diketahui golongan bahan makanan yang dibutuhkan untuk menyusun menu tersebut. Golongan dan jenis bahan makanan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3 Kebutuhan bahan makanan sehari dalam setiap acara makan penyakit hipertensi dan dislipidemia
Golongan Bahan Makanan Bahan Makanan SP G
Serealia dan olahannya Beras 5 250
Daging unggas dan ikan Ikan 2 80
Ayam 2½ 100
Sayur-sayuran Kangkung 1 100
Wortel 2 200
Buncis 1 100
Buah-buahan dan Gula Mangga 2 180
Gula 4 40
Lemak dan Minyak Minyak 1 5
Margarin 4 20
Susu Susu cair 1 100
Susu non fat 1 25
Susu bubuk 2 40

PENGOLAHAN DAN PENYAJIAN
Pengolahan dan penyajian diet rendah garam dan diet dislipidemia
Tabel 4. Nama hidangan, bahan utama, metode pengolahan, dan alat saji diet hipertensi dan dislipidemia
Menu Bahan
Makanan Bahan Tambahan Metoda Pengolahan Alat saji
Nasi lunak
Tumis Ayam + Beras - Perebusan + pengukusan Piring porselen
Ayam tanpa kulit garam tumis Piring porselen
Wortel Wortel
pala rebus Mangkuk
Kopi susu Susu Air + gula Gelas
Pudding buah Gula Agar-agar rebus Piring kecil
Mangga Mangga
Susu Susu low fat Gelas
Nasi Beras Rebus + kukus Plato
Pepes ikan Ikan kunyit kukus Plato
Ayam kecap Ayam Gula merah tumis Plato
Susu Susu skim bubuk Gelas
Gula
Oseng Kangkung + wortel + buncis Wortel garam tumis Plato
Kangkung
Buncis

Gambar Masakan
Menu Makan Pagi
• Nasi lunak
• Tumis ayam + wortel
• Kopi susu kedelai
( E : 225 Kal, KH : 30 g, L : 6,5 g, P : 30 g

Selingan 1 dan 2
• Pudding Mangga
• Susu low fat
( E: 330 Kal, KH: 59 g, L: 7 g, P: 7 g)

Makan Siang
• Nasi putih
• Pepes tahu
• Sup buncis + wortel
• Buah pepaya
( E: 325 Kal, KH: 44 g, L: 7,5 g, P: 18,5 g)

Makan Malam
• Nasi Putih
• Tumis bayam
• Pepes ikan
• Buah pepaya
( E: 360Kal, KH: 57 g, L: 3 g, P: 12g)

EVALUASI HIDANGAN
Evaluasi untuk menu makan pagi yaitu nasi lunak sudah cukup baik, pemberian kopi susu kedelai sebaiknya ditanyakan dulu kepada pasien mengenai keluhan gastritis. Konsumsi kopi pada pasien dengan keluhan gastritis sebaiknya dibatasi karena dapat merangsang kerja lambung. Ayam suwir-wortel sudah cukup baik tingkat kematangannya, tetapi rasa terlalu pedas. Evaluasi untuk puding mangga adalah rasanya yang kurang manis. Oleh karena itu, jenis mangga yang dipakai haruslah lebih manis untuk menambah rasa manis pada puding tanpa perlu penambahan gula pasir. Kombinasi jumlah gula yang lebih besar dipadukan dengan mengurangi jumlah mangga juga dapat diaplikasikan pada selingan ini sehingga kandungan energi tidak melebihi kecukupan.
Evaluasi untuk makan siang, ukuran saji sup ayam terlalu banyak. Sebaiknya sayuran yang dimasukkan ke dalam sup hanya 0.75 SP. Aroma sup ayam sudah baik karena ditambahkan sedikit bubuk pala ke dalam sup. Selain itu, ayam disangrai terlebih dahulu sebelum dimasukkan dalam sup sehingga rasa sup ayam tidak terlalu amis. Pepes tahu sudah baik teksturnya, namun sebaiknya tidak digunakan cabai sebagai isi pepes. Pepaya yang disajikan pada menu makan siang terlalu matang sehingga warna kurang menarik. Evaluasi untuk tumis bayam dan wortel pada menu makan malam yaitu ukuran saji yang terlalu banyak dan potongan wortel yang terlalu tipis. Nasi yang dimasak sudah baik. Bumbu pada pepes ikan terlalu banyak dan seharusnya tidak menggunakan cabai rawit. Tekstur ikan sudah cukup baik, tetapi kualitas ikan kurang segar.

KESIMPULAN
Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah (dalam jangka waktu lama). Penderita yang mempunyai sekurang-kurangnya tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat diperkirakan mempunyai keadaan darah tinggi. Pencegahan yang dilakukan untuk mengatasi dislipidemia adalah latihan jasmani, penurunan berat badan bagi yang gemuk, dan menghentikan kebiasaan merokok serta minuman alkohol. Diet yang dapt diberikan dalah Diet Rendah Garam. Tujuan diet garam rendah adalah membantu menghilangkan retensi garam atau air dalam jaringan tubuh dan menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi.

DAFTAR PUSTAKA
[Anonim]. 2007. Beberapa macam hipertensi. http://sehatherbal.blogspot.com/ [27 Maret 2011]

_______. 2008. Tekanan darah tinggi. http://id.wikipedia.org/wiki/Tekanan_darah_tinggi [27 Maret 2011]

_______. 2009. Mengatasi tekanan darat tinggi. http://kumpulan.info/ [27 Maret 2011]l

[PERKI]. 1995. Pedoman Deteksi, Prevensi dan Tatalaksana Dislipidemia dalam penanggulangan Penyakit Jantung Koroner, PERKI edisi 1995.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3503/1/gizi-bahri3.pdf

Liza. 2007. Dislipidemia. http://drlizakedokteran.blogspot.com/ [27 Maret 2011]

LAMPIRAN
Resep Puding Mangga
Bahan:
- agar-\agar

Cara Pengolahan:
- Dicampurkan agar-agar dengan gula sebanyak 50 gr atau secukupnya.
- Ditambahkan air sebanyak 600 ml dan dipanaskan sambil terus diaduk hingga mendidih.
- Dimatikan api dan didiamkan selama 3 menit, kemudian dituang ke cetakkan yang sudah disusun dengan mangga.
- Didinginkan dalam lemari es selama 30 menit. Siap dihidangkan.

• Susu Low Fat
- Direbus air hingga mendidih,
- Dituang ke dalam cangkir yang telah diisi susu bubuk,
- Disajikan hangat
Nasi Putih
Bahan
- Beras
Cara Pengolahan :
Beras direbus sampai airnya habis. Kemudian dikukus sampai matang

Pepes Tahu
Bahan :
- Tahu
- Telur
Cara Pengolahan :
Tahu dihancurkan kemudian dilumuri dengan telur sebagai perekat. Tahu dibungkus dengan daun pisang dan kmudian dikukus.

Sop Ayam Wortel Buncis
Bahan :
- Ayam
- Wortel
- Buncis
Cara Pengolahan :
Ayam disangrai dahulu agar tidak amis. Bumbu dihaluskan dan direbus bersama air. Ayam dimasukkan ketika air telah mendidih. Kemudian dimasukkan wortel dan buncis. Pala dan lada dapat ditambahkan sebagai pemberi aroma.